Ketika pertanyaan senada dilanjutkan dengan spesifik menjadi penulis cerpen atau disebut juga dengan istilah ingin menjadi seorang cerpenis, hasilnya sama, terbukti tidak satu pun siswa yang mengacungkan tangannya. Apakah memang tidak memahami makna pertanyaan itu? Entahlah. Silakan dicoba di kelas kita masing-masing.
Tapi kalau ditanya apakah mereka menyukai membaca cerpen, ternyata cukup ramai juga yang mengaku suka. Tidak hanya dengan mengacungkan tangan bahkan berani menjelaskan dengan lisan bahwa mereka memang menyukai membaca atau mendengarkan orang membaca cerpen. Kalau ada kegiatan lomba membaca cerpen, sebagian mengaku ingin ikut atau sekurang-kurangnya ingin mendengarnya.
Tapi kalau ditanya apakah mereka menyukai membaca cerpen, ternyata cukup ramai juga yang mengaku suka. Tidak hanya dengan mengacungkan tangan bahkan berani menjelaskan dengan lisan bahwa mereka memang menyukai membaca atau mendengarkan orang membaca cerpen. Kalau ada kegiatan lomba membaca cerpen, sebagian mengaku ingin ikut atau sekurang-kurangnya ingin mendengarnya.
Berbekal hasil 'survey' tak resmi itu, lalu siswa diajak berdiskusi dengan topik "Menulis Cerpen Bagi Siswa" dengan maskud lebih membuka pikiran dan perasaan mereka sekaligus latihan berbcara. Sebenarnya KD (Kompetensi Dasar) yang tepat dan ada kaitannya dengan pertemuan ini berbunyi begini, "Mengemukakan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerita pendek melalui kegiatan diskusi." (KD 6.1 untuk kelas X, SMA). Tapi jika ingin para siswa pada hari itu untuk praktik menulis cerpen tentu tidak masalah dengan strategi begini. Sebagai guru kita pasti merasa perlu membuat mereka tertarik untuk menciptakan karya sastra berupa cerita pendek. Dan itu tentu saja harapan yang bagus. Jika selama ini mereka sudah mengerti dan bisa membuat pantun dan atau puisi, misalnya mereka pun harus bisa membuat karya sastra prosa semacam cerpen.
Lalu bagaimana strategi awal, jika ingin anak-anak mau dan mampu menulis cerpen? Pertama, tentu saja harus dijelaskan kembali pengertian cerpen kepada mereka. Lalu hal-hal yang mentukan cerpen itu sendiri. Sebuah cerita, meskipun disebut pendek, tetap saja ada standar pendek-panjanganya dalam menentukan apakah karya tulis itu akan disebut cerpen atau bukan. Jumlah kata atau halaman yang sedikit tidaklah menjadi patokan mutlak. Justeru penentu panjang-pendek itu akan diukur dari keluasan permsalahan yang ditampilkan. Untuk sebuah cerpen yang sederhana, sekurang-kurangnya memiliki satu atau dua permasalahan sebagai pijakan untuk mengurutkan settingnya. Penyelesaian (ending) sebuah cerpen juga dibuat secara sederhana saja. Jika sebuah novel atau roman akan mengisahkan tokohnya dengan ending sempurna seumpama dari kelahiran hingga ke kematian, maka dalam sebuah cerpen endingnya bahkan bisa bagaikan tergantung saja.
Strategi awal membuat cerpen bagi anak-anak muda (remaja) seumur SMA akan lebih bagus --untuk tema, misalnya-- dengan tema-tema yang langsung bersinggungan dengan kehidupan mereka. Tentang setting pun tidak jauh-jauh dari kehidupan remaja itu sendiri. Dengan menjadikan lingkungan remaja sebagai setting cerita maka para siswa akan lebih mudah melakukannya. Dengan memakai setting kehidupan sendiri, tentu saja bagaikan mengisahkan kehdupannya sendiri. Tidak usah terlalu khawatir jika cerpennya tidak mengandung amanat yang mudah dipahami.
Intinya, unsur-unsur instrinsik --seperti penokohan, tema, amanat, latar, dll-- tidak harus membuat para siswa terlalu bingung ketika akan memulai menulis cerpen. Unsur-unsur intrinsik itu secara otomatis akan wujud jika cerpennya sudah jadi. Mulai saja dengan menuliskan bagian perkenalan dari tokoh yang akan disampilkan atau dimulai dari menceritakan settingnya. Tidak masalah dari mana kita akan memulai cerita kita. Dari sisi waktu, akan kita kisahkan kejadian dari awal hingga akhir (lurus) atau dari belakang ke depan (flasback) juga tidak masalah.
Pergulatan antar tokoh dapat dibuat sesuka hati hingga akhirnya sampai pada penyelesaian kisahnya. Dalam meramu kisah yang akan disampaikan. Itu semua akan sepenuhnya tergantung kepada penulisanya. Penulis pun bisa menentukan sendiri, apakah akan melibatkan diri di dalam kisahnya atau sekadar menceritakan tokoh-tokoh di luar dirinya. Mulai saja menulis dan buat gaya sendiri walaupun tidak salah jika gaya penulis lain dijadikan model kita. Tentu saja semua itu harus diawali dengan membaca karya-karya orang lainnya untuk mengetahui dan memahami tentang cerpen itu sendiri. Pemahaman dari membaca itulah yang akan menggiring kita untuk memulai menulis sebuah cerpen. Ayo, mari dimulai!***
Intinya, unsur-unsur instrinsik --seperti penokohan, tema, amanat, latar, dll-- tidak harus membuat para siswa terlalu bingung ketika akan memulai menulis cerpen. Unsur-unsur intrinsik itu secara otomatis akan wujud jika cerpennya sudah jadi. Mulai saja dengan menuliskan bagian perkenalan dari tokoh yang akan disampilkan atau dimulai dari menceritakan settingnya. Tidak masalah dari mana kita akan memulai cerita kita. Dari sisi waktu, akan kita kisahkan kejadian dari awal hingga akhir (lurus) atau dari belakang ke depan (flasback) juga tidak masalah.
Pergulatan antar tokoh dapat dibuat sesuka hati hingga akhirnya sampai pada penyelesaian kisahnya. Dalam meramu kisah yang akan disampaikan. Itu semua akan sepenuhnya tergantung kepada penulisanya. Penulis pun bisa menentukan sendiri, apakah akan melibatkan diri di dalam kisahnya atau sekadar menceritakan tokoh-tokoh di luar dirinya. Mulai saja menulis dan buat gaya sendiri walaupun tidak salah jika gaya penulis lain dijadikan model kita. Tentu saja semua itu harus diawali dengan membaca karya-karya orang lainnya untuk mengetahui dan memahami tentang cerpen itu sendiri. Pemahaman dari membaca itulah yang akan menggiring kita untuk memulai menulis sebuah cerpen. Ayo, mari dimulai!***
Posting Komentar
Berikan Komentar Anda