TERASA
sesuatu masih mengganjal hati saya untuk memenuhi undangan itu. Sulit rasanya
memberikan kata putus: pergi atau tidak. Mau pergi berat rasa di hati. Tidak pergi juga tidak enak. Saya dapat undangan.
Tetangga lagi. Hmm… terasa ada yang menusuk ulu hati saya.
Saya termenung. Pandangan menancap dalam
ke tanah yang ditumbuhi rumput gajah itu.
Kesan buruk yang menyebabkan enggannya
saya untuk datang ke rumah Pak Arlan, tetangga saya, itu masih berbekas di
benak saya. Sulit melupakan begitu saja.



