TIDAK berlebihan jika ada usulan agar guru membuat komunitas
tulis-menulis di sekolah. Meskipun belum tentu para guru menganggap usulan ini penting
namun saya yakin wadah ini perlu bagi guru dalam usaha mengembangkan
kreativitas tulis-menulisnya. Kreativitas tulis-menulis, walaupun dapat dilakoni
secara sendiri namun akan lebih menantang jika dilaksanakan dalam kebersamaan
dengan orang lain.Bahwa mungkin saja ada guru yang tidak sependapat itu tidak masalah. Apalagi di sekolah juga sudah ada wadah berkumpul-kumpul para guru untuk membicarakan kepentingannya. Kepentingan utama guru sendiri adalah bagaimana bisa dan terus menjadi guru profesional sebagai pendidik. Dan itu bisa diwadahi oleh forum semacam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) atau yang sejenis. Padangan ini tentu tidaklah salah.
Tidak mengusulkan pembentukan komunitas kepenulisan di tengah masyarakat, tidak pula berarti komunitas itu tidak penting di luar guru. Hanya saja kepentingan perlunya komunitas kepenulisan di sekolah yang anggotanya adalah para guru, adalah karena keperluan pengembangan menulis itu sendiri bersinggungan langsung dengan guru. Guru adalah pendidik yang diberi beban tugas sangat mulia sekaligus sengat berat. Siapa dan bagaimana guru, persisnya dapat diperiksa di UU No 14/ 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 (1), pasal 2 (1,4) dan di beberapa pasal lainnya. Di antara tugas mulia dan berat itu terselip perlunya guru mengembangkan keterampilan menulis dan membaca.
Seperti eksplisit ditegaskan dalam Permendiknas No 41/ 2007 tentang Standar Proses pada Perihal Perinsip-perinsip Penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) bahwa RPP yang disusun guru wajib mengembangkan budaya membaca dan menulis. Tanpa menyebut spesifikasi Mata Pelajaran (MP) apa yang diampu guru, setiap guru harus menerapkan perinsip itu. Jadi, tidak ada dikotomi di antara guru MP Bahasa (Indonesia- Inggeris) yang dianggap berkewajiban mengembangkan budaya membaca dan menulis dengan guru non bahasa.
Sayangnya realita yang ada ternyata tuntutan peraturan menteri itu hanya ada di kertas saja. Tidak atau belum terealisasikan di lapangan. Bukan hanya guru non bahasa yang belum membuktikan kewajiban mengembangkan budaya membaca dan menulisnya bahkan sebagian guru bahasa juga tidak atau belum melaksanakannya. Padahal tuntutan kurikulum untuk melaksanakan pembelajaran dengan empat keterampilan berbahasa (membaca, menulis, menyimak/ mendengarkan dan berbicara) adalah kewajiban bagi seorang guru bahasa. Itu sudah nyata ada dalam silabus MP Bahasa untuk dilaksanakan guru.
Rendahnya budaya baca dan menulis guru secara langsung akan berpengaruh kepada peserta didik. Sedikitnya para peserta didik yang menggemari kreativitas membaca dan menulis dalam kehidupan sehari-harinya (terutama di sekolah) sebenarnya mencerminkan rendahnya budaya membaca dan menulis di kalangan guru itu sendiri. Silakan disurvey di sekolah-sekolah yang ada, berapa banyak guru yang menyempatkan diri menjadi penulis disamping tetap menjadi guru. Alih-alih menjadi penulis, menggemari dan belajar menulis juga tidak sebarapa jumlahnya. Berapa persen saja guru yang menggemari kreativitas menulis di setiap sekolah, sungguh menyedihkan.
Di sinilah usul untuk membentuk komunitas menulis di kalangan guru perlu diperhatikan dan dilaksanakan. Jika di setiap sekolah --dari SD s.d. SLTA-- terbentuk komunitas menulis oleh dan untuk para guru maka wadah ini akan menjadi tempat para guru membina dan mengembangkan budaya membaca dan menulisnya. Dengan komunitas menulis, para guru akan berkesempatan sesama guru (dengan atau tanpa membedakan MP apa yang diampu) untuk saling bertemu khusus membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan kepenulisan.
Guru dapat membuat jadwal pertemuan secara rutin (mingguan atau bulanan) untuk saling memberi atau menerima informasi yang berkaitan dengan kreativitas kepenulisan. Dengan bertemu secara rutin dalam jumlah tertentu juga akan berguna untuk saling belajar antara satu orang dengan lainnya. Biasanya, di antara sekian anggota komunitas akan ada satu atau beberapa orang yang sudah lebih maju atau lebih memahami dari pada yang lain. Maka orang ini dapat diminta untuk membimbing atau mengajar rekan-rekan lainnya. Kelebihan ini juga bisa berbeda-beda. Ada yang lebih menguasai teknologinya dan ada pula yang menguasai teknik dan teori menulisanya. Silakan member sesuai dengan kapasitas kemampuan yang dimiliki.
Plus minus antara satu dengan lainnya inilah yang akan menjadi kekuatan dalam komunitas menulis yang terbentuk. Harus dipastikan bahwa di forum ini hanya membicarakan kreativitas menulis saja dengan tetap mengaitkannya dengan tiga kemampuan berbahasa lainnya. Sesungguhnya empat kemampuan berbahasa itu akan saling berhubungan dan melengkapi dalam keterampilan berbahasa itu sendiri. Jadi, kemampuan menulis akan lebih berkembang jika keempat kemampuan berbahasa itu secara bersama-sama dipahami dan dilaksanakan. Semoga.***
Posting Komentar
Berikan Komentar Anda