BREAKING NEWS

Sabtu, 13 Januari 2018

Berteman di Tanah Suci Bagaikan Suami-Isteri

SATU lelaki, satu lagi lelaki juga. Tapi kemana pergi keduanya sama-sama pergi. Pulang ke rumah (hotel) juga sama-sama pulang. Tidak pernah berpisah. Jika ada satu orang, ada satu orang lagi bersamanya. Terus berdua kemana saja.

Salah satu peringatan yang selalu disampaikan kepada jamaah calon haji atau jamaah umroh dalam manasik haji atau mansik umroh sebelum berangkat ke Tanah Suci adalah 'harus selalu bersama di Tanah Suci'. Bersama maksudnya jangan suka sendiri-sendiri di antara ratusan ribu bahkan jutaan jamaah yang ada. Nanti mudah sesat, begitu inti pesannya.

Itulah yang saya (dan teman saya) praktikkan di Mekkah atau di Madinah, dua Tanah Suci, lokasi berhaji atau melaksanakan umroh. Dan di dua tempat ini, tidak jarang terjadi jamaah tersesat jalan, kehilangan arah jalan atau tidak dapat menemukan satu lokasi yang mestinya dijalani seumpama tempat menginap (hotel). Itulah yang disebut tersesat. Lazim sekali jamaah kita (Indonesia) tersesat di dua tempat ini.

Pada umroh yang kami (rombongan Gaido Azza) ikuti pada 20 s.d. 29 Desember 2017 lalu, saya dan salah seorang teman, Pak Amin yang oleh penyelenggara (travel) kami disatukamarkan di hotel ketika di Mekkah, maka kami berdua mempraktikkan apa yang selalu diingatkan para ustaz atau muthowwif ketika dilaksanakan acara manasik sebelum berangkat. "Jangan pernah berpisah  ketika keluar rumah agar tidak lupa arah."

Pesan itu benar-benar kami amalkan. Walaupun kami sebenarnya sudah pernah merasakan ramainya masjid Nabawi dan atau masjid Haram ketika menunaikan ibadah haji beberapa tahun lalu, namun kami tidak menganggap bahwa kami benar-benar telah menguasai medan jalan dan lokasi dari penginapan ke masjid. Kami tetap pergi bersama jika akan ke masjid atau berbelanja, misalnya.

Pastilah kebersamaan di Tanah suci itu benar-benar akan berkesan bagi kita yang menjalani. Sepuluh hingga dua puluh hari untuk umroh (tergantung paket yang kita ambil) atau 40-an hari dalam berhaji adalah waktu yang cukup lama berdua atau bersama dengan teman-teman lain dalam kelompok (regu/ rombongan) kita.

Dalam melaksanakan umroh kemarin itu, kebetulan selama di Madinah kami setiap satu kamar ditempatkan empat orang (sama-sama lelaki, tentunya). Dan ibu-ibu juga demikian. Dan walaupun boleh mengambil satu kamar berdua dengan isteri, tapi ramiai diantara kami yang tidak mengambil paket satu kamar itu. Saya dan tiga teman lainnya disatukamarkan. Dan ketika ke masjid Nabawi kami berempat sering bersama. Tapi sering juga saya dan Pak Amin pergi berdua sementara dua teman kami juga pergi berdua ketika ke masjid.

Ketika di Mekkah kami menginap di hotel yang berisi dua tempat tidur saja, maka kami pun hanya berdua saja dalam setiap kamar ditempatkan trevel. Saya dan Pak Amin diletakkan di kamar yang sama, kamar 326 Hotel Dallah Ajyad itu. Maka di sinilah perasaan bersama antara saya dan Pak Amin semakin terasa. Kami benar-benar mempraktikkan pesan para ustaz ketika memberikan manasik saat persiapan keberangkatan umroh.

Kalau ada yang bergurau menyebut kami bagaikan suami-isteri yang terus kompak kemana pun pergi, bisa saja. Dan kami pun tidak keberatan dikatakan demikian. Di Tanah Suci memang harus menjaga kebersamaan. Sekurang-kurangnya berdua atau bertiga dalam satu rombongan. Usahakan tidak bepergian sendirian walaupun merasa mampu melaksanakan. 

Apalagi, jangan sampai ada perasaan mampu melakukan perjalanan sendirian. Banyak sekali jamaah yang merasaakan tiba-tiba saja kehilangan arah, lupa jalan ketika di hati ada perasaan sombong kaena merasa mampu dan tahu jalan. Bukan saja ada yang lupa jalan di luar masjid, bahkan mencari jalan keluar dari dalam masjid saja bisa lupa (sasat) jika perasaan sombong, sok tahu ada di dalam dada. Maka berjalan bersama, itulah cara terbaik di Mekkah atau Madinah.***

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.