BREAKING NEWS

Selasa, 02 Januari 2018

Bersedekah Membuat Bahagia: Pengalaman di Mekkah



BERSEDEKAH atau berinfaq mungkin sudah biasa kita lihat orang atau seseorang melakukannya. Terutama di bulan puasa, misalnya paling sering kita saksikan orang melakukan aktivitas sedekah atau berinfaq. Bersedekah langsung --memberi-- atau melalui orang lain, sudah tidak asing bagi kita.
Tapi orang bersedekah di Mekkah atau Madinah seperti yang saya saksikan ketika melaksanakan ibadah umroh di Tanah Suci (20-29 Desember 2017) kemarin itu, pantas untuk diberikan rasa bangga dan rasa kagum. Layak untuk diteladani.

Magrib hari Selasa (26/12) itu saya dan Pak Amin, teman satu kamar selama di Mekkah kebetulan sama-sama meneruskan waktu Magrib ke Isya tanpa kembali ke hotel terlebih dahulu. Mengingat jarak Hotel Dallah Ajyad, tempat kami menginap lumayan jauh dari Masjid Alharam, maka selepas magrib itu kami tidak kembali ke hotel lagi. Tapi kami mengisi waktu (semacam i'tikaf) di masjid dengan membaca alquran menjelang datangnya waktu Isya.
Ketika membaca alquran itulah, seseorang berbaju jubah Arab berwarna putih dengan perawakan Arab berjalan dari satu jamaah ke jamaah lainnya sambil membawa kurma di tangan kanan dan satu kotak tisu di tangan kiri. Dia memberikan dan membagi-bagikan kurma itu kepada para jamaah yang duduk-duduk sembari menunggu waktu Isya itu.
Saya mengambil tiga butir kurma dan mengambil satu lembar tisu yang saya pakai sebagai bungkus/ alas kurma sebelum saya memakannya. Saya meneruskan saja mengaji karena waktu Isya memang masih lama. Orang-orang lainnya ada yang langsung menyantap buah kurma ranum itu dan ada juga yang tetap membiarkan kurmanya tergeletak di hadapan sambil meneruskan membaca alquran.

Sepuluh menit menjelang masuk waktu Isya, saya menutup alquran. Saya memakan buah kurma sedekah orang Arab itu dengan rasa bahagia. Pada saat perut memang mendekati makan malam, ada orang menyodorkan buah kurma, tentu saja itu sebuah kebahagiaan.
Di Baitullah selepas thowaf
Setelah ketiga buah kurma itu saya makan dan membungkus bijinya dengan kertas tisu saya menghirup kopi (serasa jahe) yang juga disuguhkan oleh orang yang bersedekah. Dan tak lama, bungkus biji kurma dan gelas plastik suguhan kopi jahe yang masih tergeletak di hadapan saya, langsung dipungut oleh orang yang sama. Saya benar-benar terkesima dan bertambah kagum. Dalam hati saya, dia yang bersedekah, dia yang mengantarkan sedekahannya kepada orang yang akan menerima, dan dia juga yang memungut 'sampah' di hadapan setiap jamaah yang sudah disuguhkannya buah kurma. Sungguh mulia hatinya.
Saya hanya membaca subhanalloh pertanda rasa kagum dan bahagia. Betapa sempurnanya keikhlasan orang itu dalam bersedkah. Dan tiba-tiba saya teringat beberapa kasus orang bersedekah di negeri saya sendiri. Saya ingat sebuah kasus orang kaya yang bersedekah menjelang hari raya. Para fakir-miskin dipanggilnya ke rumahnya untuk menerima sedekah. Sedihnya, karena cara pembagian sedekahnya juga tidak baik dan benar, pelaksanaan pembagian sedekah itu malah menimbulkan malapetaka: timbulnya korban, bahkan kematian.
Jika saja para dermawan atau orang-orang kaya itu benar-benar ingin bersedekah, tentu saja hendaklah membuat para penerimanya senang dan berbahagia. Bukan justeru mendatangkan malapetaka, korban. Ada banyak cara yang bisa ditempuh agar sedekah benar-benar sampai dengan baik. Di sinilah keikhlasan itu akan terlihat.
Seperti yang ditunjukkan oleh orang yang bersedekah kurma di Masjid Alharam itu. Dia yang mengantarkan kepada setiap jamaah. Dia --dibantu orangnya-- juga yang membagi-bagikan kopi. Dan akhirnya dia pula yang mengutip (mengumpulkan) sampah kurma yang disedekahkannya. Para penerima sedekah benar-benar duduk manis saja menerima sedekah itu. Bisakah kita?***
Catatan yang sama di  http://kariclick.com/catatan-dari-tanah-suci-ikhlasnya-hati-dalam-memberi/

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.