BREAKING NEWS

Jumat, 18 Maret 2016

Dia 'Pergi' Menggantung Diri

Ilustrasi dari Google
RABU (16/03/16) sore itu adalah hari berduka buat kami yang saling bertetangga. Wonosari, kampung yang dominasi penduduknya etnis Jawa sangat terkenal kehidupan kekeluargaan dalam bertetangganya. Saya yang bukan Jawa pun merasakan kompaknya bertetangga dengan mereka. Maka ketika ada berita duka mengejutkan, semuanya terperangah dan tidak menyangka. Tapi, ya apa mau dikata, kejadian itu benar-benar ada: seorang tua menghabisi nyawanya dengan cara tidak mulia.

Mati dengan gantung diri adalah mati sesat dalam keyakinan agama. Masyarakat Wonosari, Kelurahan Baran Barat Kecamatan Meral, Karimun memang masyarakat muslim dengan hanya beberapa rumah tangga yang non muslimnya. Itupun bukan dari keluarga Jawa. Tentu saja peristiwa kematian bapak dengan usia senja itu sangat mengejutkan para tetangga. Bagai tidak percaya dengan kenyataan salah seorang warganya mati dengan cara gantung diri. "Itu mati sesat," cetus salah seorang warga yang menyaksikan lansgung mayat tergantung.

Saya ikut menyaksikan kakek dengan satu orang anak itu. (Tentang jumlah anak kandungnya, saya tidak tahu persis dan tidak pula mau bertanya sore itu. Saya hanya mendengar obrolan dari mulut ke mulut ketika menyaksikan mayat bapak itu). Saya juga melihat menyemutnya warga kampung Wonosari mendatangi mayat tergantung yang beritanya sore itu begitu cepat menyebar. Namanya juga kampung, walaupun belum sampai ke media sosial, tapi informasi dari mulut ke mulut, sampai juga ke telinga saya. Dan saya ikut datang ke kebun tempat Wak Mun itu tergantung.

Dugaan sore itu, Wak Mun (begitu dia dipanggil warga di sini) memang mati bunuh diri meskipun beredar juga berita kemungkinan dia dibunuh. Dari anaknya yang bererita kepada para 'pelayat' sore itu juga memastikan kalau orang tuanya bunuh diri. Selain tidak ada tanda-tanda kekerasan di badannya, anaknya juga menjelaskan bahwa bapaknya itu memang tengah mengidap penyakit paru-paru akut. Sudah lama sakitnya dan tidak sembuh-sembuh juga. Selain itu, bapak itu juga sudah lama hidup sendiri karena ditinggal isterinya. Serumah dengan anak dan menantunya, tidak membuat dia berhenti mengais rezeki di kebun (tanah orang) setiap hari. Bahkan masak pun sendiri, kata para tetangga. Mungkin dia stres, kata orang-orang yang datang.

Kini, dia pergi dengan menggantung diri. Apakah dia menyadari kalau mati seperti itu tidak akan menyelamatkan dia nanti di akhirat? Jangan, jangan dia malah tidak memikirkan begitu sama sekali. Jika demikian, boleh jadi para tetangga, karib keluarga juga tidak memberinya pencerahan tentang mati bunuh diri yang dilarang Ilahi. Ah, memang menyedihkan. Dan harus menjadi pelajaran bagi yang menyaksikan.***

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.