BAGI yang belum pernah melaksanakan solat kusuf (gerhana) matahari, pengalaman melaksanakan solat gerhana matahari pagi Rabu (09/03/16) di Masjid Agung Kabupaten Karimun beberapa waktu lalu itu tentu saja menjadi pengalaman pertama dalam hidup. Saya yakin kebanyakan jamaah masjid terbesar di Kabupaten Berazam yang ikut serta sebagai peserta solat gerhana matahari total 2016 adalah jamaah dengan pengalaman pertama dalam melaksanakan solat gerhana. Sungguh luar biasa dan mengesankan sekali, memang.
Hari Rabu pagi itu memang hari istimewa bagi muslim-muslimah di sekitar masjid Agung dan tentu saja di tempat-tempat lain yang dilalui matahari. Datangnya fenomena alam yang langka berupa Gerhana Matahari Total (GMT) di Tanah Air, memberi kesempatan bagi orang Indonesia untuk secara langsung menyaksikan GMT itu. Setelah tiga puluh tahun yang lalu, inilah kembali datangnya peristiwa langka itu. Bagi umat Islam, kemunculan GMT adalah kesempatan untuk melaksanakan solat kusuf-asysyamsi alias solat gerhana matahari. Solat sunat ini tidak dapat dilaksanakan di setiap waktu, kecuali datangnya gerhana matahari dan atau gerhana bulan.
Maka ketika dipastikan akan datangnya GMT, oleh Pemerintah dan dianjurkan untuk melaksanakan solat sunat gerhana matahari bagi setiap muslim, maka masyarakat Karimun pun menyiapkan diriny auntuk melaksanakan solat langka itu. Jumlah jamaah solat gerhana matahari pagi itu sungguh di luar dugaan. Beberapa hari sebelum hari H-nya, sebenarnya gaung pelaksanaan solat gerhana tidaklah bergema sebagaimana hari Idul Fitri atau hari Idul Adha, misalnya.
Tapi, ternyata ah ternyata di luar dugaan. Jamaah solat sunat gerhana matahahari pagi itu benar-benar membludak. Luara biasa jumlahnya. Tidak ubahnya seperti pelaksanaan solat hari raya, Idul Fitri atau Idul Adha. Di masjid Agung para jamaah tidak hanya menyesaki lantai utama (lantai dua) tapi juga ada yang harus solat di lantai atas (lantai tiga) dan lantai bawah. Begitulah ramainya jamaah solat itu. Karena kesadaran? Semoga saja.
Tentang solatnya sendiri, juga menyisakan kesan luar biasa bagi jamaahnya. Solat yang hanya dua prosesi sujud (meskipun dengan empat kali ruku') dilaksanakan dalam waktu yang cukup lama. Bahkan terasa lebih lama dari pada pelaksanaan solat tarawih yang 8 atau 20 rakaat. Jika solat tarwih biasanya hanya antara 20 s.d. 30 menit, maka solat gerhana matahari itu memerlukan waktu 40 menit untuk solatnya saja. Jika ditambahkan dengan waktu khutbah yang setengah jam lagi, maka berarti diperlukan 70 menit waktu prosesi solat gerhana matahari itu.
Bagi yang belum pernah solat berlama-lama (seperti di Mekkah) tentu saja ini menjadi pengalaman dahsyat baginya. Pastinya, solat gernaha matahari itu benar-benar lua biasa dan menyisakan pengalaman dahsyat bagi jamaahnya. Akankah kita merasakan lagi pengalaman dahsyat itu? Konon menurut para ahli, mungkin tidak lagi. Entah berapa puluh tahun lagi GMT itu akan datang.***
Tapi, ternyata ah ternyata di luar dugaan. Jamaah solat sunat gerhana matahahari pagi itu benar-benar membludak. Luara biasa jumlahnya. Tidak ubahnya seperti pelaksanaan solat hari raya, Idul Fitri atau Idul Adha. Di masjid Agung para jamaah tidak hanya menyesaki lantai utama (lantai dua) tapi juga ada yang harus solat di lantai atas (lantai tiga) dan lantai bawah. Begitulah ramainya jamaah solat itu. Karena kesadaran? Semoga saja.
Tentang solatnya sendiri, juga menyisakan kesan luar biasa bagi jamaahnya. Solat yang hanya dua prosesi sujud (meskipun dengan empat kali ruku') dilaksanakan dalam waktu yang cukup lama. Bahkan terasa lebih lama dari pada pelaksanaan solat tarawih yang 8 atau 20 rakaat. Jika solat tarwih biasanya hanya antara 20 s.d. 30 menit, maka solat gerhana matahari itu memerlukan waktu 40 menit untuk solatnya saja. Jika ditambahkan dengan waktu khutbah yang setengah jam lagi, maka berarti diperlukan 70 menit waktu prosesi solat gerhana matahari itu.
Bagi yang belum pernah solat berlama-lama (seperti di Mekkah) tentu saja ini menjadi pengalaman dahsyat baginya. Pastinya, solat gernaha matahari itu benar-benar lua biasa dan menyisakan pengalaman dahsyat bagi jamaahnya. Akankah kita merasakan lagi pengalaman dahsyat itu? Konon menurut para ahli, mungkin tidak lagi. Entah berapa puluh tahun lagi GMT itu akan datang.***

Posting Komentar
Berikan Komentar Anda