BREAKING NEWS

Kamis, 03 Maret 2016

Komentar Membuatnya Terlempar: Mari Belajar

BARANGKALI tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Peribahasa, 'Mulutmu adalah harimaumu' pun tidak pernah terbayangkan akan menimpa dirinya. Atau peribahasa, 'Berbuat baik berpada-pada, berbuat jahat sekali jangan' juga tidak terindahkan dalam tindak-tanduknya. Jadilah peristiwa itu. Dan risiko yang harus dialaminya itu pastilah tidak diduga akan menimpanya. Pasti, ya dijamin pasti kalau dia tidak menduga akan sebegitu berat 'hukuman' yang harus dia derita akibat kecerobohannya.


Tapi apa lagi yang mau dikatakan. Jika harus menyesal, penyesalan itulah yang masih dirasakan. Kini semuanya sudah terlanjur. Bak nasi yang sudah menjadi bubur, tidak mungkin bubur akan menjadi nasi kembali. Dia harus menerima 'hukum' atas perbuatannya sendiri. Tangan mencincang, bahu memikul, itulah peribahasa yang tepat untuk hukuman atas kasus yang menerpa dirinya.

Nama panggilannya Dewi. Di akun facebook dia membuat nama With Dove. Nama facebook inilah yang akhirnya membuat heboh dunia maya dan dunia nyata,khususnya di Karimun. Sejak memposting komentarnya atas sebuah status dari seorang temannya, reaksi facebooker lainnya bagaikan air bah menyerang wanita lajang ini. Tak dapat dibendung. Sampai akhirnya dia menghapus akunnya sendiri. Ini pasti di luar perkiraannya. Komentar di akun facebook itu telah menjerumuskannya ke jurang yang tidak dibayangkannya sebelumnya.

Kejadian tragis ini bermula dari dipostingnya sebuah gambar alquran oleh seorang teman facebook. Pada gambar alquran itu ada sepasang kaki yang kelihatannya menginjak kitab suci umat Islam itu. Tapi postingan gambar itu berbunyi (kurang lebih) "Terkutuklah orang yang menginjak alquran ini." yang berarti memarahi orang yang menginjak alquran. Bagi pembaca pada umumnya, status itu tentu saja tidak masalah. Memang tidak pantas kitab suci dihina begitu. Dan sekian banyak (konon sudah ribuan) komentar membalas postingan itu, semuanya berisi mengaminkan doa kutukan itu. Artinya semuanya sepihak dengan si pemilik akun.

Persoalan timbul ketika Dewi yang karyawati PT Saipem itu membuat komentar yang berbeda. Dia justeru seolah-olah membenarkan orang yang menginjak alquran itu. Dengan kalimat (kurang lebih) "Memang sebaiknya diinjak karena pak ustaz mengatakan bahwa alquran itu adalah pijakan hidup." Srrrr, komentar inilah pemicu komentar lanjutan yang akhirnya menghujat pembuat komentar terakhir ini. Dialah wanita yang dianggap pemicu kemarahan umat Islam khususnya di Karimun.

Komentar selanjutnya sudah dapat ditebak, bahwa masyarakat, khususnya yang berada di Karimun menumpahkan sumpah-serapahnya kepada pemilik akun 'whit dove' yang diketahui bermstautin di Karimun. Rata-rata komentar lanjutan meminta kepada umat Islam (Karimun, khususnya) untuk mencari dan menghukum Dewi. Dan karena masalahnya semakin memanas, sampai juga ke MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Polri Karimun kontroversi komentar itu. Mengapa Karimun? Karena diketahui bahwa wanita dengan pendidikan sudah di Perguruan Tinggi itu memang tinggal di Kabupaten Berazam, persisnya di Meral, Karimun. Sebagai salah seorang karyawati PT Saipem Branch Karimun, tentu saja dia bertempat tinggal di lokasi yang tidak jauh dari perusahaan Italy itu: Meral, Karimun.

Setelah keadaannya semakin memanas, MUI memanggil wanita itu dengan arahan dan pengawasan dari kepolisian (Polres Karimun). Dalam sebuah 'sidang' yang dihadiri oleh pengurus MUI Kabupaten Karimun, beberapa pengurus Ormas Islam dan dari pihak kepolisian sendiri sebagai pengamanan, diambil beberapa kesepakatan antara lain, 1) Dewi harus meminta maaf secara terbuka kepada umat Islam. 2) Dewi harus meninggalkan Karimun. 3) PT Saipem harus memberhaentikan dan atau memindahkan ke lokasi lain di luar Karimun. Cukup berat tentunya permintaan sekaligus keputusan yang bernada pemaksaan itu. Tapi Dewi tidak bisa lagi membela dirinya untuk sekadar melepaskan 'hukuman' itu.

Ya, akhirnya Dewi benar-benar pergi dari Karimun. Dia terlempar oleh komentarnya sendiri. Peribahasa 'mulutmu adalah ahrimaumu' benar-benar dirasakan olehnya. Ini adalah pembelajaran yang sangat berharga. Mari belajar dan mari belajar dari kasus itu. Semoga tidak ada lagi orang-orang yang serampangan membuat komentar di media sosial. Itu sangat berbahaya. Dan meskipun kisahnya sudah cukup lama lewat, saya pikir masih ada gunanya sebagai pembelajaran. ***


Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.