SEJATINYA tidak ada pertentangan antara boleh-tidaknya LGBT menyebarluaskan konsep dan keinginannya untuk berkembang di negeri Pancasila ini. Tapi nyatanya ada dua kelompok yang saling pro dan kontra terhadap keberadaan LGBT. LGBT sebagai sebuah wadah atau usaha ke arah menjadi organisasi resmi, sudah jelas terbaca di berbagai media bahwa kelompok ini ingin eksistensinya diakui dan disamakan perlakuannya dengan masyarakat umum lainnya.
Sesungguhnya LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) sebagai sebuah kelompok atau kaum yang mengelompokkan dirinya sebagai sebuah organisasi benar telah menyebabkan timbulnya dua kubu seteru antara membela dan menentangnya. Menyedihkan memang, mengapa ada dua pendapat tentang perlu-tidaknya LGBT berkembang. Bukankah kelompok ini adalah kelompok yang nyata bertolak belakang bahkan bertentangan dengan pandangan bangsa dan konsep negara sebagai bangsa berpancasila.
Pancasila sebagai dasar negara sudah jelas mengakui dan memastikan bahwa negara ini berdiri dengan rakyatnya yang beragama. Sebutan 'berketuhanan yang maha esa' itu jelas maksudnya bahwa bangsa ini mengakui Tuhan sebagai pemberi wahyu untuk beragama bagi rakyatnya. Pancasila sudah nyata mengakui bahwa negara ini berdiri dengan dasar pengakuan adanya Tuhan itu. Artinya agama adalah dasar berbangsa dan bernegara.
Jika kita (bangsa Indonesia) sudah berketetapan bahwa agama adalah dasar berpikir dan bertindak, sementara tidak ada agama yang menganjurkan tindakan dan perbuatan yang diinginkan kelompok LGBT, bagaimana kita bisa berbeda pendapat terhadap keinginan itu. Seharusnya tidak ada satupun di antara kita yang mendukung keinginan LGBT untuk, milsanya boleh bercinta (melepaskan syahwat) sesama sejenis kelamin; atau keinginan untuk dinikahkan sesama sejenisnya.
LGBT sudah sangat kentara berharap untuk beberapa perlakuan yang aneh itu. Bagaimana mungkin negara harus melegalkan pernikahan orang sejenis kelamin seperti yang mereka harapkan itu?. Lha, 'binatang' saja tidak mau kawin dengan sesama sejenis kelaminnya, mengapa manusia yang mulia ini berkeinginan lebih rendah dari pada binatang?. Bagaimana mereka berkeinginan seperti itu hanya atas dasar di negara lain ada aturan yang membolehkan? Aneh, kan?
Lalu, keinginan LGBT yang meminta penyaluran nafsu syahwat sesama sejenis kelamin, atau meminta dibolehkan, misalnya menyalurkan nafsu kepada siapapun yang disukai? Tentu saja harapan ini tidak mungkin dikabulkan negara. Itu sudah jelas tidak sesuai dengan harapan secara umum.
Tapi bagaimana ada orang yang justeru mendukungnya, walaupun orang itu sebenarnya tidak termasuk orang yang mengidap penyakit lesbian, gay, dan sejenisnya. Dengan kedok perikemanusiaan malah mendukung membabi-budata harapan-harapan konyol dari kelompok ini? Silakan bersimpati, silakan mendukung tapi untuk tujuan mengobati dan mengembalikan kelompok ke jalan yang benar. Tidak tepat mengatakan keinginan menikah sesama sejenis itu sebagai sebuah fitrah dari Tuhan. Malah Tuhan sudah mengutuk sejak lama perangai manusia yang menyalurkan nafsunya kepada sesama sejenis itu.
Saat ini malah kian marak 'pertengkaran' antara yang pro dan yang kontra secara salah ini. Apa itu perlu? Bukankah itu hanya akan menyita waktu dan energi? Bahwa kita harus bersimpati dan membantu LGBT, semua kita harus menyetujui. Mari kita membantu mereka. Mari kita berusaha dan berjuang untuk hak-hak mereka. Tapi simpati yang mana dan hak yang mana?
Hak yang benar dari mereka sesungguhnya adalah hak untuk kembali normal sebagaimana manusia lainnya. Walaupun pro-kontra bahwa LGBT adalah kelompok orang yang berpenyakit prilaku menyimpang, tapi sudah jelas bahwa keinginan mereka itu memang tidak lazim. Itu sudah jelas-jelas menyimpang. Dan artinya itu adalah sebuah penyakit. Bagaikan orang yang suka mencuri atau merampok, itu adalah sebuah penyakit karena sikap itu adalah sikap yang tidak sesuai fitrah manusia. Begitu pula yang ingin korupsi, bagaimana koruptor misalnya dapat dikabulkan keinginan untuk terus melakukan perbuatan korupsi?
Itulah sebabnya, tidak tepat di antara kita ada yang berbeda pendapat dengan keberadaan LGBT. Sikap kita harus tegas, jika LGBT berdiri untuk mengembangkan perilaku menyimpang itu, maka semua kita (yang bukan berpenyakit sama) harus menentangnya. Jika kita ingin mendkungnya, itu adalah untuk dukungan agar mereka kembali sehat seperti manusia lainnya.***

Posting Komentar
Berikan Komentar Anda