BREAKING NEWS

Minggu, 28 Februari 2016

Pesan MTQ: Janganlah Sok Asing

SUATU hari saya menulis status di dinding facebook, akun milik saya sendiri tentang pesan bupati. Status itu saya tulis pagi-pagi selepas solat subuh. Tentang pagi-pagi selepas subuh, itu memang sudah biasa bagi saya. Setiap hari, setiap pagi dan malam saya memang sudah menekadkan di hati untuk membuat minimal satu status (kalimat) di facebook. Saya selalu katakan di berbagai kesempatan bahwa untuk latihan menulis (kampanye saya ke siswa dan guru), dapat memulainya dengan tulisan pendek semacam status di facebook itu. Dan status yang saya tulis kali ini memang atas catatan sambutan bupati pada malamnya.

Persisnya status itu berbunyi begini, "Dalam keadaan defisit anggaran, kita harus terus membangun. Maka keikutsertaan masyarakat diharapkan semakin tinggi dalam membangun daerah ini." Begitu antara lain pesan Bupati Karimun, H. Aunur Rafiq dalam pengarahannya pada pembukaan MTQ Tingkat Kecamatan Belat, semalam (Senin,22/02). Bagi kita masyarakat, berhemat berbelanja, mengutamakan produk daerah (negara) kita dari pada membanggakan produk Asing, adalah salah satu bentuk partisipasi kita dalam pembangunan daerah dan bangsa. Maka jangan sok produk Asing, mulai hari ini. Selamat pagi, sahabat FB. Cukup panjang, memang. Dan komentar dari banyak teman dunia maya juga bermunculan.

Pesan yang ingin saya sampaikan pada status itu adalah mengulangi pesan Pak Bupati, H. Aunur Rafiq ketika memberi sambutan pada pembukaan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) Tingkat Kecamatan Belat di Desa Sebele, Kecamatan Penarah, malam itu. Untuk pertama kali saya berkesempatan hadir bersama rombongan bupati dalam acara MTQ. Bupati, seperti sudah menjadi tradisi, akan membuka acara MTQ Tingkat Kecamatan dan --biasanya juga-- Wakil Bupati yang akan menutupnya. Bupati selalu membawa pejabat kabupaten (Pimpinan SKPD), FKPD, toga-tomas dan banyak lagi. Dan saya malam itu kebetulan diajak juga oleh bupati --melalui staf yang ditugaskan menghubungi siapa saja-- untuk ikut dalam setiap kegiatan pembukaan MTQ.

Catatan singkat ini saya tulis, karena saya anggap pesan, perlunya jiwa nasionalis dan kedaerahan secara positif yang disampaikan bupati dalam pengarahannya adalah amanat yang harus dipahami dan laksanakan masyarakat. Dari banyak pesannya malam itu, bagian pesan ini adalah yang paling penting menurut say, selain penekanannya tentang pentingnya pengamalan kandungan isi alquran. Dalam acara semacam musbaqah membaca alquran, penyampaian amanat mengenai alquran itu sendiri, tentu saja sudah lazim. Tapi menyampaikan pesan yang sepesifik tentang perlunya rasa memiliki negara dan atau daerah, itu adalah hal menarik.

"Kita jangan sok Asing dan bangga memakai produk Asing," kata bupati untuk mengingatkan masyarakat agar menggunakan produk bangsa atau daerah sendiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya pikir itu memang penting untuk diingatkan terus. Selama ini, bahkan boleh jadi sampai detik ini, masyarakat kita memang sudah tertipu oleh pemikiran untuk membanggakan produk bangsa lain. Banyak masyarakat dengan membusungkan dada dan bangga memakai produksi negara lain. Sebutlah pakaian (baju, celana, tas, dompet, sepatu, dst....) yang bermerek dari Italy, Prancis, Singapura atau entah negara lainnya, meskipun dengan harga mahal, namun tetap saja memaksakan membelinya. Inilah kebanggaan yang keliru, kata bupati.

Saat ini, dengan berbagai kebijakan regional dan Internasional yang memudahkan produk bangsa lain memasuki negara lainnya, maka sikap kurang nasionalis akan menyebabkan bangsa kita akan dijajah secara ekonomi oleh negara lain. Sudah sangat jelas bahwa setiap kita membeli produk Asing, maka rupiah yang kita pakai untuk membeli produk itu akan otomatis menyedot uang kita ke negara  mereka. Artinya devisa negara kita akan terkuras oleh produk mereka.

Menyedihkan, saat ini begitu banyaknya produk Asing di kedai atau di mall-mall di negara kita. Tidak sekadar produk yang memang belum mampu dibuat bangsa sendiri, bahkan kue-kue pun sudah membanjiri kedai-kedai di negeri kita. Lihatlah di mall atau di kedai retail negeri kita, ternyata produk rumah-tangga yang dibuat di Johor, Melaka atau beberapa negara bagian Malaysia begitu banyak membanjiri rak-rak kue kedai kita.

Sesungguhnya keberadaan produk-produk Asing itu tidaklah menyalahi aturan perdagangan dunia saat ini. Bahkan dengan peraturan yang sudah disepakati antara negara di Asia, nyaris semua produk dan jasa yang ada di satu negara akan dengan mudah membanjiri negara lainnya yang sudah sama-sama menyepakati. Maka satu-satunya strategi untuk mengatasi kemungkinan kita akan dijajah-habis oleh negara lain, adalah dengan menumbuhkan rasa nasionalisme rakyat kita terutama dalam menggunakan produk-produk bangsa sendiri. Sejelek apapun hasil usaha bangsa sendiri, wajiblah itu yang diutamakan untuk dipergunakan.

Itulah yang menjadi penekanan bupati pada malam pembukaan MTQ itu. Dia minta memulainya dari produk daerah sendiri. Sebagai masyarakat Karimun, mari digunakan produk Karimun terlebih dahulu sebelum membeli produk Asing. Kueh-mueh yang berjejer di mall atau di kedai-kedai dengan lebel negara lain, tidak perlu bangga lagi menggunakannya. Belilah makanan, minuman atau pakaian produk bangsa sendiri. Jangan lagi gengsi menggunakannya meskipun mutunya boleh jadi tidak sehebat produk bangsa lain. Saya setuju pesan bupati itu. Kita memang juanganlah 'sok asing' dengan memakai produk bangsa Asing itu.*** 



Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.