BREAKING NEWS

Minggu, 22 Maret 2015

Pertemanan itu Memang Menguntungkan

JIKA agama mengajarkan bahwa bersilaturrahim itu dapat memperpanjang umur dan memudahkan rezeki, maksudnya adalah bahwa dengan senantiasa menjalin silaturrahim orang akan saling kenal dan saling ingat. Karena terus saling mengenang satu sama lainnya, maka tentu saja ingatan itu akan membuat seseorang akan senantiasa saling mengenang juga untuk waktu yang lebih lama.
Ketika seseorang masih terus ada dalam ingatan, artinya orang tersebut tidak hilang atau tidak pernah mati dalam ingatannya. Maka orang itu akan terus ada dan artinya umurnya terasa lebih panjang. Bahkan setelah dia 'berpulangpun' akan terasa masih ada. Selain itu, umur panjang karena silaturrahim juga bisa karena antara satu dengan lainnya saling berdoa untuk kesehatan lainnya. Jika Allah mengabulkan doa-doa itu, berarti akan lebih lama umurnya dari sebelum didoakan.

Tentang murahnya rezeki karena silaturrahim, dapat dipahami sebagai saling membantu antara satu dengan lainnya karena hubungan baik dalam silaturrahim tersebut. Jika setiap orang saling memberi dan membantu sebagai akibat hubungan silaturrahim yang baik, maka tentu saja itu berarti rezeki seseorang itu akan lebih murah dari pada tidak mempunyai hubungan saliturrahim antara satu dengan lainnya.

Dalam pengalaman yang kita alami, pasti selalu ada bukti betapa silaturrahim alias persahabatan alias pertemanan itu benar-benar saling menguntungkan di antara orang yang bersilaturrahim. Setiap kita tentu saja mempunyai pengalaman berbeda-beda betapa pertemanan itu memang sangat berguna dan menguntungkan sekali. Dua pengalaman terakhir yang saya alami baru-baru ini dapat menjadi bukti kembali selain pengalaman yang dulu-dulu juga sudah pernah saya alami.

Pada hari Jumat (20/ 03) lalu, saya mendapat pemberian dari seseorang teman. Namanya, Mr. Angga, seorang sahabat sejak beberapa tahun belakangan ini. Saya mengenalnya, ketika Angga masih menganut agama Nasrani. Dia beberapa kali datang ke rumah dan berdiskusi masalah agama. Sampai akhirnya dia berpindah agama menjadi muslim, petemanan kami terus berlanjut.

Ketika dia membuka lembaga kursus (Bahasa Inggeris) dia bahkan mengajak saya bekerja sama. Saya dimintanya menjadi penasehat sekaligus pembina di lembaga kursusnya. Meskipun kerja sama di lembaga kursus tidak dapat terus berlanjut, persahabatan saya dan dia tetap terjalin. Nah, apakah karena pertemanan itu dia memberi sesuatu kepada saya? Bisa jadi.

Yang pasti, di tengah hiruk-pikuk masalah akik saat ini, tiba-tiba saja dia memberi saya sebuah cincin bermata batu akik yang cukup besar. Katanya itu batu giok dengan ikatan perak. Dengan ikhlas dia memberi saya ketika kami bertemu di BRI Unit Tanjungbalai Karimun itu. Saya tentu saja sangat senang dan berterima kasih atas pemberian itu. Meskipun sayatidak 'penggila' batu akik, namun saya juga menyukai dan memakai sebuah cincin berbatu akik selama ini. Kini saya memiliki dua cincin berbatu akik. Jika ditambah dengan pemberian almarhum orang tua saya, artinya saya memiliki tiga buah cincin. Ini pengalaman indah pertama saya dalam menjalin pertemanan.

Cincin dari Mr. Angga
Pengalaman kedua dalam tiga hari terakhir ini adalah ketika saya mendapat fasilitas untuk menginap di salah satu hotel yang cukup mewah di Batam. Sabtu (21/ 03) lalu itu saya kebetulan bersama rombongan Sekda Karimun (Pak Arif) pergi ke Batam, menghadiri pesta pernikahan salah seorang qoriah Kepri yang dulu mewakili Karimun dalam beberapa MTQ. Sebelum berangkat ke Batam, saya memberi tahu seorang teman, Dokter Yusrizal bahwa saya berniat akan ke Batam.

Ketika dia balik bertanya, apakah saya akan bermalam di Batam, saya katakan insyaallah saja. Saya mengatakan tergantung isteri, apakah dia mau bermalam Minggu di kota itu. Pak dokter yang anggota DPRD Provinsi itu memang adalah seorang teman yang baik selama ini. Hubungan kami terjalin karena dia adalah anggota dewan yang konsen membantu sekolah-sekolah di Karimun di lembaga yang dia ada di dalamnya. Bersama para Kepala Sekolah lain, pak Yusrizal menjalin hubungan yang baik dengan saya. Dan ketika saya memastikan akan bermalam di Batam, dia membantu saya untuk sebuah kamar hotel tempat menginap.

Saya dan isteri menginap di Hotel Gideon yang menurut saya sangat mewah itu. Saya tidak tahu berapa harga kamar per malamnya di hotel itu. Tapi menurut beberapa informasi yang saya dapat, harga kamar di situ berkisar antara Rp 480.000 s.d. Rp 1.100.000 per malamnya. Jika pun saya mendapat fasilitas kamar terendah sekalipun, itu adalah harga yang cukup malah menurut saya. Jujur saja, tarif standar yang selama ini saya alami (sewa sendiri) hanyalah kamar-kamar bertarif 300-an ribu rupiah. Makanya, menurut saya betapa bahagianya saya mendapat kamar di hotel sekelas bintang tiga itu.

Inilah kamar yang saya rasakan itu
Ini semua pastilah karena jalinan pertemanan yang ada selama ini. Mustahil semua itu dapat diperoleh tanpa jalinan pertemanan yang akrab, tentunya. Makanya saya percaya, persahabatan itu pastilah akan sangat menguntungkan bagi siapa saja. Maka jangan pernah diputus pertemanan yang sudah ada. Jalinlah dan perkokohlah terus.***

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.