BREAKING NEWS

Kamis, 04 Desember 2014

Kehilangan dan Kekuatan Doa

SEBAGAI teman, nasib yang menimpa guru ini membuat saya ikut sedih. Itu musibah yang cukup berat menurut saya. Kehilangan barang kemas senilai kurang lebih Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) bagi seorang guru sangatlah berat.


Dia seorang guru Matematika dengan seorang anak yang masih kecil. Karena suaminya juga bekerja dan bertugas di tempat lain dan tidak ada saudara atau keluarga lainnya di rumah maka untuk membantu mengasuh anaknya, dia menggaji seorang pengasuh. Lagi pula pengasuh itu adalah isteri dari pesuruh sekolah tempat bekerja sendiri. Sambil membantu istseri pesuruh itu sekaligus mendapatkan manfaat dari keberadaan pengasuh anaknya itu.

Kepercayaan penuh memang diberikannya kepada wanita pengasuh itu. Di rumah, ibu pengasuh anaknya bisa sendiri saja ketika dia sudah harus ke sekolah. Ibu Septi, begitu ibu guru teman saya itu disapa, terkadang harus sudah berangkat ke sekolah pada saat anaknya belum bangun. Situasi seperti itu membuat dia menyerahkan anaknya sekaligus keamanan rumahnya kepada pemabantu itu. Tidak ada keraguannya untuk meninggalkan rumah kepada pengasuh anaknya.

Ketika dia mendapat musibah kehilangan harta berharga yang dia simpan bertahun-tahun maka kecurigaan pertama tentu saja kepada pembantu itu. Karena memang dialah yang ada di rumah bersama babynya pada saat dia seharian ada di sekolah. Kecurigaannya bertambah karena kehilangan itu tidak meninggalkan bekas apapun. Kunci rumah tidak ada yang dirusak, rumah dan kamarnya juga tidak berantakan sebagaimana layaknya kasus pencurian pada umumnya.

Pikiran dan perasaan Bu Septi menjadi tidak menentu karena pembantunya juga tidak menunjukkan  tanda-tanda seorang yang telah melakukan pencurian. Dia tetap datang setiap pagi seperti biasa bagaikan orang tidak bersalah. Dan ketika guru itu menyampaikan kasus kehilangannya, ternyata pengasuh anaknya ikut terkejut secara normal dan tidak menunjukkan keterkejutan yang dibuat-buat. Bahkan berbagai cara dicoba untuk menggali kepada sang pengasuh, termasuk keterlibatan kepolisian untuk menginterogasinya, ternyata pembantu itu tidak mengakuinya. Dia sanggup bersumpah untuk menyangkalnya.

Akhirnya Bu Septi seperti mulai pasrah. Dia mulai berpikir, jangan-jangan dicuri oleh orang lain ketika dia terlupa mengunci pintu rumahnya. Konon, dia memang pernah juga lupa mengunci pintu sementara dia sudah ke sekolah. Sebagai orang yang sedang menanti giliran berangkat haji, dia menjadikan cobaan ini sebagai cobaan akan berangkat ke Tanah Suci itu. Dia sudah ikhlas, jika emas sebanyak itu tidak ditemukan.

Syahdan, suatu hari dia menemukan bungkusan barang kemas itu di depan rumahnya. Dia kaget dan membukanya. Subhanalloh, emas itu memang masih ada. Dan walaupun jumlahnya sudah tampak berkurang, dia tetap bersyukur kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Barang itu kembali lagi. Ini benar-benar keajaiban, katanya. Dia berpikir, Allah berkenan mengabulkan doanya. Terima kasih, ya Allah. Begitu dia berucap menerima kembalian hartanya itu.

Buat saya, setelah Bu Septi melaporkannya, tentu saja rasa syukur dan bangga yang dirasakan. Pelajaran lain yang dapat dipetik, selain kewaspadaan dan kehati-hatian dalam menyimpan sesuatu yang berharga, juga memperkuat keyakinan akan kekuatan doa. Jika ada musibah yang menimpa, selain berusaha tentu saja terus berdoa kepada-Nya. Itulah hikmahnya.***

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.