BREAKING NEWS

Rabu, 12 November 2014

Waktuku, Investasiku

Pengantar:
Artikel ini sudah pernah disiarkan di salah satu harian dan sudah pula menajdi salah satu tulisan dalam buku saya "Menjadi Guru Ideal Bukan Utopia" yang terbit di tahun 2013 lalu. Saya publish kembali di blog ini, jika ada yang berkenan membaca dan belum sempat membacanya sebelumnya. Terima kasih.

TENTANG ‘Waktu Sebagai Investasi’ kedengarannya aneh bahkan berlebihan diakaitkan dengan guru. Bicara investasi, konotasinya campur-aduk antara uang dan modal; antara keuntungan dan kerugian. Padahal mestinya tidak begitu. Modal investasi guru tidak selalu mesti uang. Idealisme, panggilan jiwa dan komitmen pada peningkatan mutu pendidikan adalah contoh modal yang wajib menjadi perinsip dasar guru.
Di sisi lain, sejatinya guru pun harus berusaha mencari ’profit’ dalam statusnya sebagai guru. Dan profit pun tidak harus selalu uang. Terwujudnya tujuan dan misi pendidikan bagi peserta didik adalah inti profit yang wajib diraih. Di sinilah urgensi waktu menjadi sesuatu yang tidak pantas diabaikan.
Bagaimana aplikasi investasi waktu dalam kehidupan dan keseharian guru, sesungguhnya tidaklah terlalu sulit memahaminya. Waktu sebagai sebuah investasi guru berarti waktu menjadi modal untuk mendapatkan hasil dari dan oleh kerja sang guru. Sebagai profesional, jelas harus ada hasil kerja profesinya. Sekali lagi,  jangan selalu hanya uang.
Jika guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan perannya sebagai agen pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional (Psl 4, UU No 14/ 2005) maka itu berarti dengan memandang waktu sebagai investasi berarti tujuan dan fungsi itu akan ditentukan oleh sejauh mana guru mengefektifkan penggunaan waktu dalam fungsi dan tanggung jawabnya. Fungsi keprofesionalan guru itu sangat ditentukan oleh bagaimana guru mengelola waktu dalam tugasnya.
Hakikat hidup sesungguhnya adalah mengisi waktu dan ketentuan yang telah diatur dan diamanahkan sang Khaliq. Tuhan menganugerahkan hidup dan kehidupan, kepada manusia sebagai makhluk-Nya, adalah untuk mengisi waktu, menjalankan kehidupan. Tiada kehidupan tanpa waktu. Tak ada waktu artinya tak ada kehidupan.
Begitu pentingnya waktu, sampai ada sumpah Tuhan dalam firman-Nya tentang waktu. Dalam kitab suci, Dia mengatakan, ‘demi waktu’ betapa manusia dinyatakan pada hakikatnya akan sangat merugi dalam kehidupannya kecuali orang-orang yang dapat memanfaatkan waktu hidup dan kehdiupannya dengan beriman kepada-Nya dan kepada segala yang menyertai ciptaan-Nya, beraktifitas kebaikan dan kebajikan (amal saleh) serta saling menasehati (misi menyampaikan) dengan kebenaran dan penuh kesabaran. Itulah penegasan urgensi waktu dalam kehidupan.
Kehidupan guru yang seluruhnya seharusnya didedikasikan untuk menyukseskan fungsi dan tanggung jawab profesinya maka sumpah Tuhan tentang urgensi waktu mengandung pesan bagaimana guru akan memaksimalkan penggunaan waktunya dalam tugas. Guru pasti akan beraktifitas –sebagai amalan guru—di setiap detik waktu yang ada.
Aktifitas kebajikan dan saling menasehati dalam konteks guru sebagai pendidik dan tenaga kependidikan adalah tautan yang paling tepat dikaitkan dengan pemanfaatan waktu. Aplikasi fungsi dan tanggung jawab sebagai agen pembelajaran akan meleburkan kemungkinan kerugian yang diwanti-wanti oleh sang Khaliq itu. Kerugian akan timbul tentunya bilamana aktifitas kebaikan dan kebajikan diabaikan.
Jelas sekali betapa Dia mengingatkan manusia untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang dianugerahkan-Nya. Tuhan akan sangat murka jika manusia –didalamnya juga guru--  menyia-nyiakan waktu. Waktu yang pergi tidak akan pernah kembali lagi. Apalagi guru yang dengan fungsi dan tanggung jawabnya berada pada ikatan waktu dan tempat, jelaslah bahwa begitu mutlaknya kalkulasi waktu dalam keseharian tugas dan tanggung jawabnya.
Sesungguhnya kepada setiap manusia, keberadaan waktu atau kesempatan adalah sama. Tiada beda waktu atau kesempatan bagi setiap orang. Setiap hari manusia mempunyai kesempatan 24 jam. Tujuh hari dalam sepekan. Antara 28 hari sampai 31 hari untuk setiap bulan. Dan hanya ada 12 bulan dalam setiap tahunnya. Itulah waktu-waktu yang diberikan  untuk manusia beraktifitas. Periodisasi dan siklus waktu yang sama itulah yang diberikan kepada setiap orang.
Bagi si kaya atau si miskin, waktu untuknya sama. Bagi yang kuat atau yang lemah waktunya juga sama. Orang dewasa atau anak-anak, pejabat atau rakyat dan siapa saja, waktunya sama diberikan sang Pencipta alam. Guru atau pekerja lain, waktunya pasti sama pula. Perbedaannya hanyalah pada efektifitas pemanfaatan waktu saja.
Keseriusan guru dalam memandang waktu akan menjadikan investasi waktu guru benar-benar akan mendatangkan ’profit’ keberhasilan mewujudkan misi dan harapan pendidikan itu sendiri. Sebaliknya, bagi guru yang bertahan dengan pola menyia-nyiakan dan melalaikan waktu pasti akan merugikan guru bersangkutan dan selanjutnya akan merugikan masyarakat karena telah merusak pendidikan.
Keberhasilan dan kesuksesan manusia, sesungguhnya ditentukan oleh seberapa cerdas dan bijaknya manusia dalam mengelola dan menggunakan waktu. Di sinilah keberadaan waktu sebagai suatu modal dan kekayaan akan menjadi penentu kehidupan. Waktu dalam keadaan demikian akan mempunyai kekuatan yang akan menentukan bagaimana manusia di hadapan Tuhan dan di hadapan ciptaan-Nya. Bagaimana manusia di dunia dan kelak di yaumil akhir. Tegasnya bagaimana manusia, akankah ia menjadi orang berhasil atau menjadi orang yang menang ulaaikahumul muflihuun ataukah akan menjadi orang merugi atau pecundang, ulaaikahumul khasiruun, waallohu a’lam bisshowab, hanya Allah jua yang maha tahu. Yang pasti, semua itu akan ditentukan oleh bagaimana manusia mengelola dan memanfaatkan waktu-waktu yang diberikan kepadanya.
Bagi guru, bagaimana menjadikan waktu sebagai suatu modal atau investasi yang kelak akan mendatangkan keuntungan dan kemenangan dunia pendidikan, itulah sesungguhnya yang wajib dan perlu diperjuangkan. Buat guru keuntungan dan kemenangan itu adalah kesuksesan mewujudkan fungsi dan tanggung jawab guru di hadapan peserta didik.
Waktu-waktu yang dianugerahkan Tuhan kepada guru hendaknya dijadikan sebagai modal tugas dan tanggung jawab yang akan mendatangkan keuntungan berupa kemenangan di sisi Tuhan dan di sisi manusia (stake holder pendidikan) itu sendiri. Pengelolaan waktu sebagai suatu investasi dalam keberagamaan adalah fardhu ‘ain bagi setiap individu.
Dalam konteks pengamalan nilai-nilai agama dikaitkan dengan tanggung jawab guru dalam pendidikan, investasi waktu berarti waktu atau kesempatan yang diberikan dalam mengemban beban dan tanggung jawab kiranya mampu terefektifkan di depan peserta didik. Sedangkan keuntungan yang akan diwujudkan adalah bagaimana guru menjadi personal yang benar-benar mampu mematuhi segala tata aturan sebagai pengabdi bidang pendidikan demi mewujudkan tujuan pendidikan yakni berkembangnya poptensi peserta didik, menjadikannya insan yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani, berilmu dan mengusai teknologi, cakap dan kreatif serta mandiri, serta demokratis dan bertanggung jawab sebagai warga negara Republik Indonesia. (psl 3 UU No 20/ 2003).

Demi Hari Esok
Jika pemahaman manusia bahwa investasi waktu adalah melaksanakan segala fungsi dan tanggung jawab sesuai aturan waktu yang ditetapkan, artinya manusia tidak hanya melaksanakan pekerjaan-pekerjaan hari ini, akan tetapi juga bekerja untuk masa yang akan datang.
Orang yang melakukan kegiatan yang dapat mendatangkan suatu keberhasilan di masa yang akan datang itulah orang yang mempersiapkan kemenangan di masa depan. Allah sudah jelas mengingatkan agar orang-orang beriman (komitmen) dan bertakwa kepada-Nya (beraktifitas kebajikan) supaya memperhatikan apa-apa yang telah dilakukan untuk masa yang akan datang.
Apa yang diingatkan dalam firman-Nya (Al-’Hasyr: 18), ”Hai orang-orang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah; dan hendaklah setiap diri (individu) memperhatikan apa-apa yang telah diperbuat untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha tahu atas apa-apa yang kamu lakukan”, jelas betapa Tuhan tidak ingin manusia lupa dengan yang telah dan akan diperbuatnya untuk hari esok.
Apa yang diingatkan dalam ayat itu adalah bagaimana manusia beriman dan bertakwa mempersiapkan dirinya demi hari esok yang menyenangkan. Bukan sekedar menyenangkan dirinya tetapi juga menyenangkan orang lain. Hari esok sebagai hari kemenangan. Hari kemenangan yang mendapat redhoi dari semua arah.
Hari esok dalam ayat itu oleh mufassir memang tidak hanya diartikan hari kiamat atau hari pembalasan hidup dan kehidupan manusia setelah menjalani proses hidup di dunia saja. Hari esok di situ juga berarti hari esok selama dan ketika menjalankan aktifitas di dunia fana, hari di mana manusia mempersiapkan dan menjalankan kebutuhan hidup duniawinya dari waktu ke waktu.  
Sebagai ’khalifah’ yang diutus  ke muka bumi, (Al-Baqoroh: 30) maka tugas dan kewajiban duniawi manusia sebelum sampai ke kehidupan akhirat adalah melaksanakan dan menjalankan kehidupan duniawi itu sendiri sebagai sebuah amanah. Di dunialah manusia menjalankan dan mempersiapkan kehidupan akhirat. Di dunialah manusia diberi kesempatan untuk meraih akhirat yang baik. Dan itu hanya akan terealisasikan dengan dedikasi ilmu. Ilmulah sentralnya.
Sudah diingatkan dalam keyakinan beragama, sabda nabi yang berbunyi, jika Anda ingin dunia, raihlah dengan ilmu. Jika Anda ingin akhirat, pun harus diraih dengan ilmu. Dan jika ingin meraih kedua-duanya sekaligus, raihlah juga dengan ilmu. Artinya, untuk kini, esok, atau lusa, segalanya akan bermula dengan ilmu. Di sinilah guru, intelektual si empunya ilmu diharapkan memberikan dan menunjukkan dedikasinya,
Jelas sekali buat kita bahwa kesuksesan yang akan diraih adalah kesuksesan ganda: dunia dan akhirat sekaligus. Sugesti Nabi, Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk selama-lamanya; dan beramallah untuk akhiratmu, seakan-akan kamu akan mati esok hari, merupakan amunisi untuk yakin dan kokoh dalam tugas dan tanggung jawab.
Bahwa akhirat (masa datang) lebih utama dari pada dunia (masa kini) sejatinya menjadi pelecut dalam mewujudkan cita-cita. Urgensi ’masa datang’ sesungguhnya akan diukur dari bagaimana melaksanakan ’masa kini’. Bukan sebaliknya. Karena masa kinilah segalanya dipersiapkan, termasuk persiapan kesuksesan masa datang itu.
Kita harus berhasil menjadi penghuni dunia (baca: pelaksana masa kini) yang sukses.  Bagaimana itu dapat diwujudkan? Itulah dengan menjadikan waktu dan kesempatan yang diberikan sebagai investasi meraih kesuksesan dunia dan akhirat (kini dan esok). Tentu saja, waktu baru bernilai investasi jika waktu terisi dengan baik dan efektif sesuai fungsi dan tanggung jawab.
Mempedomani arahan Nabi, yang  mengingatkan bahwa ada lima kesempatan atau periode yang wajib diwaspadai dan terkelola dengan baik sebagai bentuk investasi waktu, sehingga kita tidak menjadi orang-orang yang merugi dan menyesal di kemudian hari, hendaknya dicamkan baik-baik. Dikatakan dalam salah haditsnya, Pelihara dan kelolalah lima perkara, sebelum datang yang lima perkara: 1) pelihara masa mudamu sebelum datang masa tuamu; 2) jaga waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu; 3) jaga masa kayamu sebelum datang saat miskin; 4) jaga waktu lapangmu sebelum datang masa sempitmu; dan 5) jaga hidupmu sebelum sampai waktu matimu. Inilah periodisasi waktu yang sangat urgen diperhatikan namun sering manusia alpa melaksanakan.
Lima periode waktu ini  kiranya wajib dikelola dengan baik sebagai bentuk investasi waktu manusia (termasuk guru) demi mewujudkan kemenangan masa datang yang diredhoi semua pihak. Ketika usia masih muda, kekuatan masih ada, tenaga masih membara, pergunakanlah waktu itu dengan baik.  Jangan pernah  dibiarkan waktu muda berlalu percuma sehingga usia mendesak tua.
Ketika badan masih sehat dan kuat, manfaatkan kesehatan itu sesuai ketentuan. Tidak selamanya manusia akan sehat, maka kesehatan yang diberikan mari dijaga dan dikelola dengan baik. Lakukan apa saja demi hari esok yang baik.
Begitu pula dengan kekayaan dan kelapangan yang dianugerahkan. Kerja keras dan ketekunan yang kita lakukan alhamdulillah mungkin telah mendatangkan kekayaan; kekayaan yang diredhoi Tuhan, bukan kekayaan yang dikutuk-Nya. Maka hendaklah dijaga dan dimanfaatkan kekayaan itu dengan baik sesuai ketentuan dan aturan-Nya pula. Harta yang dicari dengan cara yang halal, itu tidak semuanya milik sendiri meski diusahakan sendiri. Di dalamnya ada bagian orang-orang miskin, anak yatim dan lain sebagainya. Adalah kewajiban bagi kita untuk menyalurkannya kepada mereka.
Tentang hidup dan kehidupan itu sendiri, yang masih dimiliki, ingatlah saatnya akan berakhir. Itu pesan kelimanya. Jika ajal sudah tiba, tidak akan ada penundaan kematian dan tidak juga akan ada percepatannya. Dia tetap pada ketentuan-Nya. Maka bersiap-siap dan dijagalah kehidupan yang masih diberikan ini.
Dengan analogi seperti itu, bagi guru yang dari waktu ke waktu, dari satu tahun ke tahun berikutnya, akan terus mengampu amanah kependidikan, tiada lain tekad dijunjung kecuali memastikan bahwa setiap detak waktu yang ada akan merupakan investasi kependidikan oleh guru itu sendiri. Lebih dari itu guru pun berkewajiban memastikan bahwa kesuksesan mencapai dan mewujudkan tujuan pendidikan adalah bukti profit dari investasi guru bsersangkutan di bidang pendidikan. Jangan ada keletah ane-aneh dengan waktu.
Untuk ini, tidak akan ada lagi terdengar guru-guru yang --sengaja atau tidak—menyia-nyiakan waktunya dalam bertugas. Tak akan ada alasan apapun untuk datang terlambat ke sekolah, terlambat masuk kelas, terlambat mempersiapkan perangkat dan kelengkapan pembelajarannya, terlambat menyadari dan bersiap diri dalam pengembangan diri dan bentuk-bentuk keterlambatan lainnya. Hanya ada satu komitmen: setiap detik yang ada merupakan modal investasi guru untuk meraih tujuan pendidikan yang diemban. Semoga. ***

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.