Pengantar:
Artikel ini sudah pernah disiarkan di salah satu harian dan sudah pula menajdi salah satu tulisan dalam buku saya "Menjadi Guru Ideal Bukan Utopia" yang terbit di tahun 2013 lalu. Saya publish kembali di blog ini, jika ada yang berkenan membaca dan belum sempat membacanya sebelumnya. Terima kasih.
Artikel ini sudah pernah disiarkan di salah satu harian dan sudah pula menajdi salah satu tulisan dalam buku saya "Menjadi Guru Ideal Bukan Utopia" yang terbit di tahun 2013 lalu. Saya publish kembali di blog ini, jika ada yang berkenan membaca dan belum sempat membacanya sebelumnya. Terima kasih.
TENTANG ‘Waktu Sebagai Investasi’ kedengarannya aneh bahkan
berlebihan diakaitkan dengan guru. Bicara investasi, konotasinya campur-aduk antara
uang dan modal; antara keuntungan dan kerugian. Padahal mestinya tidak begitu. Modal
investasi guru tidak selalu mesti uang. Idealisme, panggilan jiwa dan komitmen
pada peningkatan mutu pendidikan adalah contoh modal yang wajib menjadi
perinsip dasar guru.
Di sisi lain, sejatinya guru pun harus berusaha mencari
’profit’ dalam statusnya sebagai guru. Dan profit pun tidak harus selalu uang. Terwujudnya
tujuan dan misi pendidikan bagi peserta didik adalah inti profit yang wajib diraih.
Di sinilah urgensi waktu menjadi sesuatu yang tidak pantas diabaikan.
Bagaimana aplikasi investasi waktu dalam kehidupan dan
keseharian guru, sesungguhnya tidaklah terlalu sulit memahaminya. Waktu sebagai
sebuah investasi guru berarti waktu menjadi modal untuk mendapatkan hasil dari dan
oleh kerja sang guru. Sebagai profesional, jelas harus ada hasil kerja
profesinya. Sekali lagi, jangan selalu
hanya uang.
Jika guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan perannya sebagai
agen pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional
(Psl 4, UU No 14/ 2005) maka itu berarti dengan memandang waktu sebagai
investasi berarti tujuan dan fungsi itu akan ditentukan oleh sejauh mana guru
mengefektifkan penggunaan waktu dalam fungsi dan tanggung jawabnya. Fungsi
keprofesionalan guru itu sangat ditentukan oleh bagaimana guru mengelola waktu
dalam tugasnya.
Hakikat hidup sesungguhnya adalah mengisi waktu dan
ketentuan yang telah diatur dan diamanahkan sang Khaliq. Tuhan menganugerahkan
hidup dan kehidupan, kepada manusia sebagai makhluk-Nya, adalah untuk mengisi waktu,
menjalankan kehidupan. Tiada kehidupan tanpa waktu. Tak ada waktu artinya tak
ada kehidupan.
Begitu pentingnya waktu, sampai ada sumpah Tuhan dalam firman-Nya
tentang waktu. Dalam kitab suci, Dia mengatakan, ‘demi waktu’ betapa manusia
dinyatakan pada hakikatnya akan sangat
merugi dalam kehidupannya kecuali
orang-orang yang dapat memanfaatkan waktu hidup dan kehdiupannya dengan beriman kepada-Nya dan kepada segala
yang menyertai ciptaan-Nya, beraktifitas
kebaikan dan kebajikan (amal saleh) serta
saling menasehati (misi menyampaikan) dengan
kebenaran dan penuh kesabaran. Itulah penegasan urgensi waktu dalam
kehidupan.
Kehidupan guru yang seluruhnya seharusnya didedikasikan
untuk menyukseskan fungsi dan tanggung jawab profesinya maka sumpah Tuhan
tentang urgensi waktu mengandung pesan bagaimana guru akan memaksimalkan
penggunaan waktunya dalam tugas. Guru pasti akan beraktifitas –sebagai amalan
guru—di setiap detik waktu yang ada.
Aktifitas kebajikan dan saling menasehati dalam konteks
guru sebagai pendidik dan tenaga kependidikan adalah tautan yang paling tepat dikaitkan
dengan pemanfaatan waktu. Aplikasi fungsi dan tanggung jawab sebagai agen
pembelajaran akan meleburkan kemungkinan kerugian yang diwanti-wanti oleh sang
Khaliq itu. Kerugian akan timbul tentunya bilamana aktifitas kebaikan dan
kebajikan diabaikan.
Jelas sekali betapa Dia mengingatkan manusia untuk tidak
menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang dianugerahkan-Nya. Tuhan akan sangat
murka jika manusia –didalamnya juga guru-- menyia-nyiakan waktu. Waktu yang pergi tidak
akan pernah kembali lagi. Apalagi guru yang dengan fungsi dan tanggung jawabnya
berada pada ikatan waktu dan tempat, jelaslah bahwa begitu mutlaknya kalkulasi
waktu dalam keseharian tugas dan tanggung jawabnya.
Sesungguhnya kepada setiap manusia, keberadaan waktu atau
kesempatan adalah sama. Tiada beda waktu atau kesempatan bagi setiap orang.
Setiap hari manusia mempunyai kesempatan 24 jam. Tujuh hari dalam sepekan.
Antara 28 hari sampai 31 hari untuk setiap bulan. Dan hanya ada 12 bulan dalam
setiap tahunnya. Itulah waktu-waktu yang diberikan untuk manusia beraktifitas. Periodisasi dan
siklus waktu yang sama itulah yang diberikan kepada setiap orang.
Bagi si kaya atau si miskin, waktu untuknya sama. Bagi
yang kuat atau yang lemah waktunya juga sama. Orang dewasa atau anak-anak,
pejabat atau rakyat dan siapa saja, waktunya sama diberikan sang Pencipta alam.
Guru atau pekerja lain, waktunya pasti sama pula. Perbedaannya hanyalah pada efektifitas
pemanfaatan waktu saja.
Keseriusan guru dalam memandang waktu akan menjadikan
investasi waktu guru benar-benar akan mendatangkan ’profit’ keberhasilan
mewujudkan misi dan harapan pendidikan itu sendiri. Sebaliknya, bagi guru yang
bertahan dengan pola menyia-nyiakan dan melalaikan waktu pasti akan merugikan
guru bersangkutan dan selanjutnya akan merugikan masyarakat karena telah merusak
pendidikan.
Keberhasilan dan kesuksesan manusia, sesungguhnya
ditentukan oleh seberapa cerdas dan bijaknya manusia dalam mengelola dan
menggunakan waktu. Di sinilah keberadaan waktu sebagai suatu modal dan kekayaan
akan menjadi penentu kehidupan. Waktu dalam keadaan demikian akan mempunyai
kekuatan yang akan menentukan bagaimana manusia di hadapan Tuhan dan di hadapan
ciptaan-Nya. Bagaimana manusia di dunia dan kelak di yaumil akhir. Tegasnya
bagaimana manusia, akankah ia menjadi orang berhasil atau menjadi orang yang
menang ulaaikahumul muflihuun ataukah akan menjadi orang merugi atau pecundang,
ulaaikahumul
khasiruun, waallohu a’lam
bisshowab, hanya Allah jua yang maha tahu. Yang pasti, semua itu akan
ditentukan oleh bagaimana manusia mengelola dan memanfaatkan waktu-waktu yang
diberikan kepadanya.
Bagi guru, bagaimana menjadikan waktu sebagai suatu modal
atau investasi yang kelak akan mendatangkan keuntungan dan kemenangan dunia
pendidikan, itulah sesungguhnya yang wajib dan perlu diperjuangkan. Buat guru
keuntungan dan kemenangan itu adalah kesuksesan mewujudkan fungsi dan tanggung
jawab guru di hadapan peserta didik.
Waktu-waktu yang dianugerahkan Tuhan kepada guru hendaknya
dijadikan sebagai modal tugas dan tanggung jawab yang akan mendatangkan
keuntungan berupa kemenangan di sisi Tuhan dan di sisi manusia (stake holder
pendidikan) itu sendiri. Pengelolaan waktu sebagai suatu investasi dalam keberagamaan
adalah fardhu ‘ain bagi setiap
individu.
Dalam konteks pengamalan nilai-nilai agama dikaitkan
dengan tanggung jawab guru dalam pendidikan, investasi waktu berarti waktu atau
kesempatan yang diberikan dalam mengemban beban dan tanggung jawab kiranya mampu
terefektifkan di depan peserta didik. Sedangkan keuntungan yang akan diwujudkan
adalah bagaimana guru menjadi personal yang benar-benar mampu mematuhi segala tata
aturan sebagai pengabdi bidang pendidikan demi mewujudkan tujuan pendidikan
yakni berkembangnya poptensi peserta didik, menjadikannya insan yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat
jasmani dan rohani, berilmu dan mengusai teknologi, cakap dan kreatif serta
mandiri, serta demokratis dan bertanggung jawab sebagai warga negara Republik
Indonesia. (psl 3 UU No 20/ 2003).
Demi
Hari Esok
Jika pemahaman manusia bahwa investasi waktu adalah
melaksanakan segala fungsi dan tanggung jawab sesuai aturan waktu yang
ditetapkan, artinya manusia tidak hanya melaksanakan pekerjaan-pekerjaan hari
ini, akan tetapi juga bekerja untuk masa yang akan datang.
Orang yang melakukan kegiatan yang dapat mendatangkan
suatu keberhasilan di masa yang akan datang itulah orang yang mempersiapkan
kemenangan di masa depan. Allah sudah jelas mengingatkan agar orang-orang
beriman (komitmen) dan bertakwa kepada-Nya (beraktifitas kebajikan) supaya
memperhatikan apa-apa yang telah dilakukan untuk masa yang akan datang.
Apa yang diingatkan dalam firman-Nya (Al-’Hasyr: 18), ”Hai orang-orang beriman, bertakwalah kamu
kepada Allah; dan hendaklah setiap diri (individu) memperhatikan apa-apa yang
telah diperbuat untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah maha tahu atas apa-apa yang kamu lakukan”, jelas betapa Tuhan tidak
ingin manusia lupa dengan yang telah dan akan diperbuatnya untuk hari esok.
Apa yang diingatkan dalam ayat itu adalah bagaimana
manusia beriman dan bertakwa mempersiapkan dirinya demi hari esok yang
menyenangkan. Bukan sekedar menyenangkan dirinya tetapi juga menyenangkan orang
lain. Hari esok sebagai hari kemenangan. Hari kemenangan yang mendapat redhoi
dari semua arah.
Hari esok dalam ayat itu oleh mufassir memang tidak hanya diartikan hari kiamat atau hari
pembalasan hidup dan kehidupan manusia setelah menjalani proses hidup di dunia
saja. Hari esok di situ juga berarti hari esok selama dan ketika menjalankan
aktifitas di dunia fana, hari di mana manusia mempersiapkan dan menjalankan kebutuhan
hidup duniawinya dari waktu ke waktu.
Sebagai ’khalifah’ yang diutus ke muka bumi, (Al-Baqoroh: 30) maka tugas dan kewajiban duniawi manusia
sebelum sampai ke kehidupan akhirat adalah melaksanakan dan menjalankan
kehidupan duniawi itu sendiri sebagai sebuah amanah. Di dunialah manusia
menjalankan dan mempersiapkan kehidupan akhirat. Di dunialah manusia diberi
kesempatan untuk meraih akhirat yang baik. Dan itu hanya akan terealisasikan dengan
dedikasi ilmu. Ilmulah sentralnya.
Sudah diingatkan dalam keyakinan beragama, sabda nabi
yang berbunyi, jika Anda ingin dunia,
raihlah dengan ilmu. Jika Anda ingin akhirat, pun harus diraih dengan ilmu. Dan
jika ingin meraih kedua-duanya sekaligus, raihlah juga dengan ilmu. Artinya,
untuk kini, esok, atau lusa, segalanya akan bermula dengan ilmu. Di sinilah
guru, intelektual si empunya ilmu diharapkan memberikan dan menunjukkan
dedikasinya,
Jelas sekali buat kita bahwa kesuksesan yang akan diraih
adalah kesuksesan ganda: dunia dan akhirat sekaligus. Sugesti Nabi, Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu
hidup untuk selama-lamanya; dan beramallah untuk akhiratmu, seakan-akan kamu
akan mati esok hari, merupakan amunisi untuk yakin dan kokoh dalam tugas
dan tanggung jawab.
Bahwa akhirat (masa datang) lebih utama dari pada dunia (masa
kini) sejatinya menjadi pelecut dalam mewujudkan cita-cita. Urgensi ’masa
datang’ sesungguhnya akan diukur dari bagaimana melaksanakan ’masa kini’. Bukan
sebaliknya. Karena masa kinilah segalanya dipersiapkan, termasuk persiapan
kesuksesan masa datang itu.
Kita harus berhasil menjadi penghuni dunia (baca:
pelaksana masa kini) yang sukses.
Bagaimana itu dapat diwujudkan? Itulah dengan menjadikan waktu dan
kesempatan yang diberikan sebagai investasi meraih kesuksesan dunia dan akhirat
(kini dan esok). Tentu saja, waktu baru bernilai investasi jika waktu terisi
dengan baik dan efektif sesuai fungsi dan tanggung jawab.
Mempedomani arahan Nabi, yang mengingatkan bahwa ada lima kesempatan atau
periode yang wajib diwaspadai dan terkelola dengan baik sebagai bentuk
investasi waktu, sehingga kita tidak menjadi orang-orang yang merugi dan
menyesal di kemudian hari, hendaknya dicamkan baik-baik. Dikatakan dalam salah
haditsnya, Pelihara dan kelolalah lima
perkara, sebelum datang yang lima perkara: 1) pelihara masa mudamu sebelum datang
masa tuamu; 2) jaga waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu; 3) jaga masa
kayamu sebelum datang saat miskin; 4) jaga waktu lapangmu sebelum datang masa
sempitmu; dan 5) jaga hidupmu sebelum sampai waktu matimu. Inilah
periodisasi waktu yang sangat urgen diperhatikan namun sering manusia alpa melaksanakan.
Lima periode waktu ini
kiranya wajib dikelola dengan baik sebagai bentuk investasi waktu manusia
(termasuk guru) demi mewujudkan kemenangan masa datang yang diredhoi semua
pihak. Ketika usia masih muda, kekuatan masih ada, tenaga masih membara, pergunakanlah
waktu itu dengan baik. Jangan pernah dibiarkan waktu muda berlalu percuma sehingga
usia mendesak tua.
Ketika badan masih sehat dan kuat, manfaatkan kesehatan
itu sesuai ketentuan. Tidak selamanya manusia akan sehat, maka kesehatan yang diberikan
mari dijaga dan dikelola dengan baik. Lakukan apa saja demi hari esok yang baik.
Begitu pula dengan kekayaan dan kelapangan yang dianugerahkan.
Kerja keras dan ketekunan yang kita lakukan alhamdulillah mungkin telah
mendatangkan kekayaan; kekayaan yang diredhoi Tuhan, bukan kekayaan yang
dikutuk-Nya. Maka hendaklah dijaga dan dimanfaatkan kekayaan itu dengan baik
sesuai ketentuan dan aturan-Nya pula. Harta yang dicari dengan cara yang halal,
itu tidak semuanya milik sendiri meski diusahakan sendiri. Di dalamnya ada bagian
orang-orang miskin, anak yatim dan lain sebagainya. Adalah kewajiban bagi kita untuk
menyalurkannya kepada mereka.
Tentang hidup dan kehidupan itu sendiri, yang masih dimiliki,
ingatlah saatnya akan berakhir. Itu pesan kelimanya. Jika ajal sudah tiba, tidak
akan ada penundaan kematian dan tidak juga akan ada percepatannya. Dia tetap
pada ketentuan-Nya. Maka bersiap-siap dan dijagalah kehidupan yang masih diberikan
ini.
Dengan analogi seperti itu, bagi guru yang dari waktu ke
waktu, dari satu tahun ke tahun berikutnya, akan terus mengampu amanah kependidikan,
tiada lain tekad dijunjung kecuali memastikan bahwa setiap detak waktu yang ada
akan merupakan investasi kependidikan oleh guru itu sendiri. Lebih dari itu
guru pun berkewajiban memastikan bahwa kesuksesan mencapai dan mewujudkan
tujuan pendidikan adalah bukti profit dari investasi guru bsersangkutan di
bidang pendidikan. Jangan ada keletah ane-aneh dengan waktu.
Untuk ini, tidak akan ada lagi terdengar guru-guru yang
--sengaja atau tidak—menyia-nyiakan waktunya dalam bertugas. Tak akan ada
alasan apapun untuk datang terlambat ke sekolah, terlambat masuk kelas,
terlambat mempersiapkan perangkat dan kelengkapan pembelajarannya, terlambat
menyadari dan bersiap diri dalam pengembangan diri dan bentuk-bentuk
keterlambatan lainnya. Hanya ada satu komitmen: setiap detik yang ada merupakan
modal investasi guru untuk meraih tujuan pendidikan yang diemban. Semoga. ***
Posting Komentar
Berikan Komentar Anda