BREAKING NEWS

Kamis, 20 November 2014

Bersahabat dengan Buku

CITA-cita dan harapan setiap guru kepada siswanya adalah bagaimana sebuah keberhasilan menerima dan menyerap pembelajaran selama di sekolah dibuktikan dengan kemampuan mandiri, berbudi dan terampil dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang siswa, kelak sukses dalam menjalani kehidupannya, di situlah rasa haru dan gembira terasa.

Selama di bangku sekolah, kebahagiaan itu akan terasa ketika para siswa mengikuti dan menerima proses pembelajaran yang dikelola guru dengan senang hati dan gembira. Komunikasi yang lancar dan melahirkan persahabatan yang akrab antara guru dan siswa, itulah harapan utama semua guru. Indikasinya adalah para peserta didik tidak hanya mengikuti dan melaksanakan semua tugas yang diberikan guru, tapi juga melaksanakan tugas sendiri (mandiri) tanpa disuruh guru.

Guru akan senang dan bahagia sekali melihat para siswa memenuhi ruang perpustakaan untuk membaca misalnya. Atau mereka juga membaca buku di bangku-bangku di bawah pokok yang rindang di pekarangan yang disediakan sekolah. Atau mereka membaca buku di teras kelas yang juga ada tempat duduknya. Atau juga bisa membaca di teras musolla sekolah. Atau di mana saja terlihat membaca, guru pasti akan senang bahagia. Bersahabat dengan buku adalah salah satu kebahagiaan guru jika melihat siswanya begitu.

Sayangnya, harapan bersahabat dengan buku ini belum juga terjadi saat ini. Bersahabat dengan buku memang akan ditentukan oleh tingkat minat membaca siswa itu sendiri. Dan ternyata tingkat minat membaca siswa di banyak sekolah sangatlah rendah. Jika ukuran jumlah pengunjung ke perpustakaan sekolah yang menjadi ukuran, hampir semua perpustakaan sekolah sepi pengunjungnya. Jika tidak pun sepi, jumlah siswa yang memenuhkan perpustakaan itu jauh lebih sedikit berbanding jumlah siswa secara keseluruhan di sekolah.

Beberapa program dan aktivitas, sebenarnya sudah juga dilakukan sekolah untuk meningkatkan minat membaca siswa, khususnya di perpusatakaan sekolah. Di salah satu sekolah, misalnya melaksanakan program Pena Emas untuk memotivasi siswa mengunjungi perpustakaan. Setiap siswa yang tercatat paling sering (paling banyak) mengunjungi perpusatakaan --berdasarkan data buku tamu-- akan diberi penghargaan dan hadiah. Nama penghargaannya itulah Pena Emas, walaupun wujud materinya bukan benar-benar pena yang terbuat dari emas. Hanya namanya saja piagama pena emas.

Ada juga sekolah yang suka membuat program dengan nama Duta Pustaka. Kriteria dan indikator yang dipakai juga kurang lebih sama. Dari jumlah kunjungan, jumlah dan aneka ragam bacaan, sampai ke tugas tambahan membuat laporan tentang perpustakaan, dipilih siswa tertentu yang dianggap lebih tinggi prestasi nilainya. Bagi siswa yang memperoleh nilai tertinggi diberi hadiah dan penghargaan dengan sebutan Duta Pustaka. Selanjutnya dia menjadi bagian yang mempromosikan perpustakaan kepada teman-temannya yang lain. Dia akan dinobatkan sekolah menjadi duta bagi perpusatakaan untuk mengajak teman-teman meningkatkan minat baca.

Apapun kegiatan dan program yang dibuat sekolah, tiada lain tujuannya kecuali bagaimana membuat siswa (termasuk warga sekolah lainnya) mau bersahabat dan akrab dengan buku. Artinya sepanjang waktu dan sepanjang kegiatan keseharian, selalu dia bersama buku. Buku selalu ada di tangan atau di sampingnya. Setiap ada waktu kosong, dia akan membaca buku itu.Itulah wujud dia bersahabat dengan buku. Sekali lagi, ternyata bersahabat dengan buku itu tidaklah mudah. Bukan hanya guru, malah guru-guru juga belum ramai yang bersahabat dengan buku.***

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.