BREAKING NEWS

Rabu, 08 Oktober 2014

Pengorbanan Siswa pada Porprov

Defile Kontingen
UNTUK meramaikan acara pembukaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kepri ke-3 tahun 2014 di Karimun, Panitia Pengarah Masa yang kebetulan adalah Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karimun, meminta kepada setiap sekolah di Pulau Karimun untuk ikut berpartisipasi. Secara proporsional --sesuai jumlah peserta didik di sekolah-- diminta mengirimkan siswanya datang ke Stadion Badang Perkasa, lokasi pembukaan.


Kepada setiap sekolah diminta mengikutkan siswanya antara 100 orang s.d. 200 orang. Bagi sekolah yang siswanya di atas 600 orang diminta mengirimkan siswa 200 orang sementara yang jumlah siswa lebih sedikit hanya diminta 100 orang saja. Dengan proporsi seperti itu, tribun  sebelah timur, tempat penonton yang terdiri siswa dan masyarakat umum kelihatan sudah cukup ramai. Sementrara para pejabat duduk di tribun sebelahbarat yang ada atapnya.

Bagi sekolah, mengirimkan siswanya untuk memenuhi permintaan Kepala Dinas tentu saja menjadi satu kebanggaan. Inilah bentuk partisipasi sekolah dalam even yang dihelat oleh daerah ini. Sesuai harapan bupati, kiranya pada acara pembukaan itu stadion kebanggaan Karimun itu bisa kelihatan penuh.

Bagaimana dengan siswa yang dikirimkan sekolah? Sejatinya juga merupakan kebanggaan bagi peserta didik itu. Mereka harusnya juga bangga karena terpilih menjadi duta sekolah dalam acara yang dihadiri oleh gubernur. Mereka tidak datang untuk sia-sia. Tapi mereka datang atas pilihan sekolah dan merupakan kehormatan buat mereka.

Bagaimana sekolah menghargai pengorbanan siswa yang ikut dalam kegiatantersebut? Bagaimanapun, mereka telah ikhlas meninggalkan kursi belajarnya di kelas. Mereka ikhlas tidak mendapat dan tidak mengikuti proses pembelajaran selama mereka mengikuti acara yang memakan waktu hampir satu hari itu. Karena pada undangan dinyatakan bahwa pada pukul 07.30 acara akan dimulai maka sebelum jam itu para siswa sudah hadir di stadion. Dan walapun acara resminya baru dimulai pukul 10.00 karena menunggu gubernur yang datang molor, para siswa tentu tetap menunggu di tempat. Hingga acara selesai menjelang pukul 12.30 para siswa itu artinya harus mengorbankan waktu belajarnya dalam satu hari itu.

Maka seharusnyalah sekolah menghargai pengorbanan mereka itu. Mereka mestinya tidak sampai dirugikan karena tidak dapat mengikuti proses pembelajaran satu hari. Tentu saja setiap sekolah harus mempunyai cara masing-masing dalam menghargai pengorbanan siswa itu. Yang penting, jangan mereka sampai dirugikan karena tidak mengikuti pembelajaran tersebut.***

Posting Komentar

Berikan Komentar Anda

 
Copyright © 2016 koncopelangkin.com Shared By by NARNO, S.KOM 081372242221.