![]() |
| Rakit Limau Manis-Muarajalai |
Sabtu (13/ 12/ 14) itu saya harus pulang kampung ke Limau Manis, Kecamatan Kampar, kampung (desa) pemekaran yang dulu bernama Dusun Kabun, Desa Tanjungberulak. Berita kematian adik kandung saya, Syamsidah sekitar pukul 16.50 yang saya terima via telpon dari ponakan saya, Khairul Aamri hari Sabtu sore itu membuat saya memutuskan menemui keluarga besar saya di sana. Saya berangkat besok (Ahad) karena transportasi ke Batam sudah tidak ada. Sementara saya harus ke sana via Batam untuk naik pesawat ke Pekanbaru.
Ahad pagi, sekitar pukul 07.00 saya berangkat dari Karimun ke Batam dengan menumpang KM Oceanna. Sampai di Pelabuhan Harbour Bay saya meneruskan perjalanan ke Bandara Hang Nadim. Pesawat Citilink yang sudah saya miliki ticketnya akan berangkat sekitar pukul 10.40, sesuai yang tertera di ticket. Singkat cerita, berangkat dengan selamat sampai di Bandara Sultan Syarif Qasim Pekanbaru lalu melanjutkan perjalanan --dengan taksi bandara-- ke Kampung Kabun alias Limau Manis.
Pemakaman adik saya sudah usai ketika saya sampai di kampung. Saya memang sudah diberitahu ketika di Batam tadi kalau penyelenggaraan mayat itu tidak akan menunggu saya. Saya sudah ikhlas untuk keputusan itu. Selepas zuhur saya baru ke pemakaman adik saya untuk yasinan dan membacakan ayat-ayat suci alquran lainnya. Ditutup dengan doa lalu saya kembali ke rumah duka untuk berbincang-bincang dengan suami almarhumah serta anak-anaknya.
Nah, besoknya (Senin) saya berkesempatan berkunjung ke rumah saudara saya seayah, di seberang kampung saya. Kakak saya, Bansuwiyah, satu-satunya kakak saya --seayah-- yang masih hidup. Dua abang saya, Hasan dan Bakaruddin sudah berpulang beberapa tahun lalu. Jadi, meskipun jauh dan harus menyeberangi sungai, saya menyempatkan untuk bersilaturrahim ke rumah kakak saya itu.
Untuk ke sana saya harus memilih beberapa alternatif. Saya bisa melalui jembatan di Pasar Baru Airtiris dan atau di Bangkinang yang jaraknya dari kampung saya sangat jauh. Tapi jika saya ingin lebih dekat maka saya hanya bisa naik rakit. Rakit, semacam sampan besar yang diberi tali dan diikatkan ke tali yang terbuat dari kawat baja yang melintang di atas sungai. Dengan tali yang terikat di kerekan (roda) itu maka rakit ini dapat menyeberang sendiri dengan kekuatan arus sungai. Sungguh kesan tersendiri ketika kita menaikinya. Bagaikan jembatan yang sedang berjalan, terasa nyaman berada di atasnya.***


Posting Komentar
Berikan Komentar Anda