BELUM terlalu lama rasanya. Baru beberapa bulan lalu, dalam ingatan, kakak kandung saya, Syamsinar (foto paling kanan/ di belakang saya) pergi untuk selamanya. Hari ini, Sabtu, 13 Desember 2014 adik kandung saya pula pergi untuk tidak akan pernah kembali lagi. Ujian ini terasa amat berat. Saya harus kuat menerimanya.
Berita sedih ini saya terima mula-mula pagi hari. Ketika itu, adik saya, Syamsiar (foto tengah/ di depan saya) memberitahu kalau adik saya, Syamsidah Nur (foto nomor dua dari kiri/ jilbab putih) itu tiba-tiba saja mengeluh sakit sepulang dari masjid, setelah menunaikan solat subuh. Tidak lama dia langsung pingsan dan terbaring lemas di rumahnya. Begitu informasi yang saya terima telpon.
Oleh adik saya, Syamsiar dibawa ke rumah sakit Bangkinang, kurang lebih 10 km dari rumah saya di Kampung Limau Manis. Dari rumah ke rumah sakit dia tidak sadar sedikitpun. Giginya bagaikan menggigit sesuatu. Dia mendengus dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Saya pikir, itu pasti stroknya kambuh lagi. Beberapa waktu sebelumnya dia memang sudah pernah mengalami hal yang sama.
Saya benar-benar terpukul mendapat berita dari kampung itu. Tapi saya mencoba sabar sambil terus mengarahkan ponakan saya, Khairul Amri (anak Syamsinar) yang kebetulan ada di Pekanbaru untuk mengatasi musibah itu. Jika tidak bisa di Bangkinang, saya sudah arahkan untuk dibawa ke Pekanbaru saja.
Hampir satu hari (dari pagi hingga sore) dirawat di rumah sakit daerah Kampar itu, ternyata perkembangannya tidak memuaskan. Kata Khairul akan coba dibawa ke Pekanbaru. Tapi belum sempat dibawa ke Ibu Kota Provinsi Riau itu, nyawanya dijemput Yang Maha Kuasa. Khairul dengan tangis tertahan mengabarkan kepada saya: "Mak Uncu Sidah sudah pergi, Tuok Onga," begitu dia sesunggukan via telpon. Sekali lagi saya mengucapkan, ini benar-benar ujian terberat.
Dari lima bersaudara, kakak saya (Syamsinar), adik saya, Syamsiar, Syamsidah Nur dan Syamsiah Nur (foto paling kanan/ jilbab dan baju merah) kini dua orang sudah pergi. Yang tinggal kini, saya dan dua adik saya, Syamsiar dan Syamsiah itu saja. Bukan sekadar kematian itu yang saya rasakan beratnya. Tapi ada empat orang anak Syamsidah yang masih kecil-kecil. Suaminya juga hanya pekerja serabutan. Sungguh amat berat.
Baru beberapa hari yang lalu saya menulis catatan ringan bertema pentingnya komunikasi dalam keluarga di blog saya. Saya merasakan betul, jauhnya jarak kami bersaudara membuat hubungan itu tidak mudah dilakukan. Satu-satunya yang mudah dilakukan adalah hubungan komunikasi jarak jauh, baik melalui telpon, surat atau media sosial lainnya. Kini, dua orang dari kami berlima itu sudah tiada. Semoga Allah masih memberi kami bertiga dan semua anak-anak kami untuk terus berkomunikasi. Meskipun berat, kami harus menerimanya.***
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

Posting Komentar
Berikan Komentar Anda