| Pantai Palawan dan Turis Asing |
TIDAK selalu ada kesempatan untuk berlibur. Tapi menjelang akhir
tahun seperti saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk itu.
Sekolah-sekolah segera akan menghadapi ujian semester ganjil. Lalu membagi rapor
semester untuk seterusnya aka nada libur semester. Kantor-kantor juga akan libur
karena menjelang natal yang berbarengan
dengan libur akhir tahun.
Sudah terdengar santer dan tawaran
untuk berlibur di akhir tahun ini. Seperti juga masyarakat daerah lain
di Tanah Air, orang Karimun mempunyai beberapa alternatif untuk berlibur.Pertama bisa
berlibur di dalam negeri (Indonesia) saja seperti ke Bali, Jakarta, Bandung,
Medan dan beberapa kota dan objek wisata dalam negeri lainnya. Tapi, kedua juga ada yang memilih ke luar negeri
seperti ke Singapura, Malaysia dan Thailand, negara jiran.
Dari catatan yang ada masyarakat Kabupaten Karimun khususnya, atau
Provinsi Kepri pada umumnya lebih banyak memilih berlibur ke Malaysia dan
Thailan (Luar Negeri) dari pada ke Jakarta atau Bali di dalam negeri sendiri.
Di Malaysia memang ada beberapa lokasi berlibur yang sering dikunjungi warga
Karimun seperti ke Langkawi, Genting High Land, Twin Tower KL CC, Johor Baru,
Melaka, Pulau Penang dan tentu banyak lagi lainnya. Bahkan masih ada beberapa
lokasi berlibur yang belum atau jarang --sempat-- dikunjungi seperti
Kotakinabalu, Kuching, dan lain sebagainya.
Menurut beberapa sahabat yang sudah sering ke Malaysia, termasuk
yang saya rasakan sendiri, memang ada beberapa kelebihan berlibur ke Malaysia
seperti misalnya, 1) Jarak Karimun/ Kepri ke Malaysia yang tidak terlalu jauh
berbanding ke Bali atau Jakarta; 2) Ada cukup banyak objek wisata di Malaysia
(wisata belanja atau wisata budaya, dll); 3) Transportasi dan akomodasi sangat
mudah dan banyak; 4) Beda nilai mata uang Indonesia dengan Malaysia juga tidak
terlalu jauh dan stabil; 4) Budaya dan ikatan kekeluargaan yang sudah terjalin
sejak alama sebagai bangsa serumpun. Masih ada beberapa lagi, tentunya.
Di kota-kota atau terminal-terminal Malaysia juga terasa lebih
aman. Tidak ada kekhawatiran gangguan pencopet atau maling di siang hari
walaupun berjalan sendiri. Peminta-minta juga tidak tampak di simpang-simpng
lampu merah atau di kafe-kafe yang sering mengganggu kenyamanan wisatawan
seperti di negeri kita. Gangguan-gangguan seperti ini sejatinya menjadi
perhatian Pemerintah agar berwisata di negeri kita juga semakin nyaman dan
aman.
Sesungguhnya kota-kota di Indonesia sangat banyak dan beragam
untuk dikunjungi. Objek-objek wisata selain Bali dan Jakarta juga sangat banyakdan
melimpah di Tanah Air kita. Bahwa masih
banyak tempat-tempat wisata yang tidak terkelola dengan baik, itulah PR (Pekerjaan
Rumah) Pemerintah agar bangsa asing juga lebih tertarik untuk ke negara kita
disamping tentunya kita sendiri yang meramaikannya. Sayang sebenarnya, jika
harus menghambur-hamburkan rupiah ke nergi jiran. Bagaimanapun, itu pasti
membuat kekuatan mata uang negeri seberang itu akan lebih tegar dari pada uang
kita sendiri.
Berlibur, haruskah ke seberang lagi... ke seberang lagi... memang
satu hal yang tak kurang peliknya, terutama orang-orang Indonesia yang
berbatasan langsung dengan negeri seberang itu. Bagi masyarakat Karimun
khususnya, memang merasa ke negeri seberang lebih irit biayanya dari pada ke
beberapa lokasi wisata terkenal di negeri sendiri. Sudah saatnya memikirkan
plus-minus, positif-negatif dan manfaat-mudhoratnya antara berlibur ke seberang
dengan di negeri sendiri. Bahwa berlibur itu penting, tidak ada keraguan. Tapi
haruskah ke seberang terus? Inilah yang penting dipikirkan. Jika bisa di dalam
negeri, tidak harus ke luar negeri.***
Posting Komentar
Berikan Komentar Anda