SAYA teringat kata-kata P. Ramli dalam salah satu filmnya, cobaan. Setiap kali ada kendala dalam perjalanan hidup dan cita-citanya dia dan teman-teman dalam film itu akan menyebut kata cobaan. Dia tidak merasa perlu terlalu bersedih dan menyesali diri. Anggap saja itu semua sebagai cobaan. Kata itu kembali teringat.Hari ini, Selasa (21/ 04/ 15) sore saya merasa pengalaman ini juga sebagai sebuah cobaan saja. Saya mengalami, ketika saya berharap mengambil pakaian seragam untuk pelantikan pengurus IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kabupaten Karimun masa bakti 2015-2020 tetapi pakaian itu tidak jadi saya dapatkan. Padahal pelantikannya adalah besok hari. Dalam undangan disebutkan bahwa acara pelantikan itu akan dilaksanakan pukul 08.00 Rabu pagi. Jika sore ini saya belum mendapatkan pakaian seragam itu, tentu saja tidak akan ada lagi kesempatan menjahitnya. Artinya saya tidak bisa memakai seragam untuk pelantikan itu.
Pasca Musda (Msyawarah Daerah) IPHI Karimun di akhir Januari 2015, oleh Ketua Umum --terpilih-- para pengurus akan mendapatkan satu stel pakaian seragam yang akan dipakai waktu pelantikan. Itu disampaikan oleh Pak Haris Fashillah sebagai ketua dalam beberapa kali pertemuan. Semua pengurus pun sudah mengukurkan ukuran pakaian masing-masing di Hady Taylor, Karimun.
Karena pelantikan adalah besok hari, maka beberapa orang yang belum mengambil pakaian seragam sebelumnya datang untuk mengambilnya pada hari ini. Ini hari terakhir, tentunya. Termasuk saya yang datang ke tempat penjahit yang cukup terkenal itu.
Ketika saya datang, hanya ada satu orang saja lagi yang tengah berada di sana. Beberapa saat berikutnya, dia pun pergi. Tinggal saya sendiri yang berada di situ. Itu pun karena sampai setengah jam saya di situ, baju saya sendiri belum ada. Satu-satunya baju yang belum diambil waktu adalah kepunyaan Pak Lazi, bendahara IPHI.
Saya melihat kegalauan pemilik usaha jahitan itu karena baju saya belum juga ditemukan. Di semua sudut, dari lantai bawah hingga ke lantai atas (2) tidak juga ditemukan baju milik saya. Menurut salah seorang pegawai, dia melihat bahwa baju milik saya itu tadi pagi sudah ada di situ. Tapi sekarang gerangan baju itu, tidak ada yang bisa menjawabnya.
Setelah hampir satu jam saya duduk di dalam kedai itu, saya coba melihat data dan nama para pengurus yang sudah mengambil seragamnya. Tiba-tiba saya menduga baju saya terambil oleh salah seorang pengurus yang kebetulan namanya agak mirip dengan nama saya. Namanya, H. Rasyid Kiden sementara nama saya HM. Rasyid Nur. Ketika di kolom tanda tangan (bukti pengambilan) nama teman itu sudah ada tanda tangannya sementara di kolom nomor bajunya masih kosong, saya menduga baju saya itu terbawa oleh teman itu.
Ternyata benar. Setelah dicoba ditelpon ke beberapa teman lain yang sebelumnya sudah mengambil baju masing-masing, ternyata dugaan itu benar. Baju saya itu sudah diambil oleh anaknya yang kebetulan sempat datang ke kedai jahitan itu. Dan sayapun mencoba menenangkan perasaan saya. Bagaimanapun, besok adalah hari pelantikan. Pakaian seragam saya belum ada. Pasti sedikit banyak, ini membuat pikiran saya sedikit risau.
Tapi akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Saya berpikir, mungkin belum rezeki saya untuk memakai baju baru, besok pagi. Saya ikhlaskan saja baju saya itu dipakai teman itu dalam pelantikan IPHI besok. Saya harus bisa menyesuaikan saja. Saya akan mencari pakaian lain saja yang warna dan modelnya agak mendekati seragam yang dijahit itu. Sudah, anggap saja ini memang cobaan.***
Posting Komentar
Berikan Komentar Anda